Lebih dari 500 Rohingya Dikhawatirkan Tewas dalam Dua Insiden Kapal Terbalik di Teluk Benggala
Baca dalam 60 detik
- Dua kapal yang membawa sekitar 530 etnis Rohingya dilaporkan tenggelam di Teluk Benggala pada akhir Juni dan awal Juli 2026, menjadikannya salah satu bencana laut terburuk tahun ini.
- Organisasi internasional seperti UNHCR dan IOM menyatakan keprihatinan mendalam, seraya menyerukan peningkatan upaya pencarian dan penyelamatan di jalur pelayaran paling mematikan di dunia.
- Krisis kemanusiaan Rohingya diperparah oleh pemotongan bantuan asing dan konflik bersenjata di Myanmar, mendorong lebih banyak pengungsi nekat menyeberang laut ke Malaysia.

Lebih dari 500 orang dikhawatirkan tewas setelah dua kapal yang mengangkut etnis Rohingya dari Myanmar dilaporkan tenggelam di Teluk Benggala. Insiden ini kembali menyoroti tingginya risiko yang dihadapi minoritas Muslim tersebut dalam upaya melarikan diri dari penindasan dan kemiskinan.
Menurut pernyataan bersama Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) dan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), kedua kapal berangkat dari negara bagian Rakhine, Myanmar barat, pada akhir Juni lalu. Kapal pertama yang membawa sekitar 250 orang kehilangan kontak tak lama setelah berlayar. Kapal kedua dengan muatan 280 penumpang diperkirakan karam di lepas pantai Ayeyarwady pada 8 Juli.
โMeskipun insiden dan jumlah korban belum dikonfirmasi secara resmi, UNHCR dan IOM sangat prihatin atas potensi kehilangan nyawa yang sangat besar,โ demikian bunyi pernyataan kedua lembaga tersebut. Pemerintah Myanmar, melalui juru bicara Kementerian Dalam Negeri, menolak berkomentar. Sementara itu, juru bicara presiden dan pemerintah daerah Ayeyarwady juga tidak menanggapi permintaan konfirmasi.
Musim hujan yang tengah melanda kawasan Asia Tenggara membuat pelayaran di Teluk Benggala semakin berbahaya. IOM dan UNHCR mencatat bahwa hujan deras dan banjir di berbagai wilayah memperparah risiko perjalanan laut yang sudah ekstrem. Biasanya, para pengungsi Rohingya menghindari musim ini karena tingginya frekuensi badai dan ombak besar.
Krisis kemanusiaan Rohingya tak kunjung menemukan titik terang. Sekitar 1,2 juta jiwa, mayoritas Muslim, masih terperangkap di kamp-kamp padat di Bangladesh setelah melarikan diri dari gelombang kekerasan militer Myanmar pada 2017 โ sebuah tindakan yang oleh Amerika Serikat disebut genosida. Militer yang berkuasa tetap mengontrol tanah air mereka, sehingga para pengungsi tidak memiliki jalan aman untuk kembali.
Di dalam Myanmar, warga Rohingya yang tersisa menghadapi pembatasan ketat, bahkan banyak yang dikurung di kamp interniran. Sementara itu, pemotongan dana bantuan dari Amerika Serikat dan negara-negara donor lain memicu pengurangan jatah makanan di kamp-kamp Bangladesh. Kondisi ini diperparah oleh pertempuran antara junta militer dan kelompok etnis bersenjata di Rakhine, yang mendorong lebih banyak orang nekat menyeberang laut menuju Malaysia dengan perahu reyot.
Ribuan orang telah tewas dalam perjalanan tersebut, termasuk bayi, anak-anak, dan ibu hamil. Otoritas maritim setempat kerap mengabaikan laporan kapal dalam keadaan darurat, meninggalkan para pengungsi tanpa pertolongan. IOM dan UNHCR mendesak komunitas internasional untuk memperkuat upaya pencarian dan penyelamatan, menyediakan akses suaka, serta menindak jaringan penyelundupan dan perdagangan manusia.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya peran aktif dalam penanganan pengungsi di kawasan. Meskipun bukan tujuan utama, arus pengungsi Rohingya kerap melewati perairan Indonesia. Pemerintah perlu memperkuat koordinasi regional dan kesiapsiagaan SAR untuk mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak.
Ke depan, tanpa solusi politik yang komprehensif di Myanmar dan dukungan berkelanjutan bagi kamp-kamp di Bangladesh, jalur laut mematikan ini diperkirakan akan terus merenggut nyawa. Pertanyaannya, sejauh mana negara-negara tetangga dan komunitas global bersedia bertindak sebelum lebih banyak kapal karam?



