SD Negeri Sepi Peminat: Mendikdasmen Bergerak, Data Sekolah Minim Murid Dikumpulkan
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Pendidikan mencatat banyak SD negeri di Jawa hanya memiliki sedikit siswa baru, bahkan ada yang hanya satu orang.
- Mendikdasmen Abdul Mu'ti berkoordinasi dengan Mendagri untuk merumuskan solusi atas fenomena penurunan minat terhadap SD negeri.
- Data awal menunjukkan sekolah dengan jumlah murid di bawah 60 orang akan menjadi prioritas pendataan dan intervensi kebijakan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengakui fenomena sekolah dasar negeri (SDN) yang kekurangan peminat di berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa, sudah memasuki tahap kritis. Dalam waktu dekat, kementerian akan menggelar rapat khusus bersama Kementerian Dalam Negeri untuk membahas langkah strategis mengatasi masalah ini.
Mu'ti mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah mendata secara menyeluruh jumlah SDN yang memiliki siswa kurang dari 60 orang. "Kementerian sedang mendata sekolah yang jumlah muridnya kurang dari 60," ujarnya di Jakarta, Jumat (17/7). Data ini akan menjadi dasar untuk menentukan kebijakan selanjutnya, termasuk kemungkinan penggabungan sekolah atau penyesuaian alokasi guru.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di daerah terpencil, tetapi juga di kota-kota besar seperti Semarang, Boyolali, dan Tulungagung. Di SDN Purwoyoso 01, Semarang, hanya tiga siswa baru yang tercatat untuk tahun ajaran 2026/2027. Kepala sekolah Hajar Riatiani menuturkan, dari lima pendaftar awal, dua orang mengundurkan diri. Meski demikian, sekolah tetap menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan tema sirkus dan menghadirkan badut untuk menyambut ketiga siswa tersebut.
Kondisi lebih ekstrem terjadi di SDN 2 Cepokosawit, Boyolali, yang hanya memiliki satu siswa baru bernama Khanza. Guru kelas Andiyani Mudrikah mengaku sempat merasa minder, tetapi tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik. "Seberapa pun muridnya, harus tetap semangat, kita layani sebaik-baiknya," katanya. Sementara di SDN 2 Plandaan, Tulungagung, hanya dua siswa baru yang mendaftar. Salah satunya, Candra Mohammad Saputra, datang terlambat pada hari pertama sekolah tanpa seragam, hanya ditemani kakek dan neneknya.
Menurut pengamat pendidikan, tren penurunan jumlah siswa SD negeri dipicu oleh beberapa faktor. Pertama, menurunnya angka kelahiran di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Kedua, meningkatnya preferensi orang tua terhadap sekolah swasta atau berbasis agama yang dianggap lebih berkualitas. Ketiga, urbanisasi yang menyebabkan konsentrasi siswa di kota-kota besar, sementara sekolah di daerah kehilangan peminat. Kondisi ini diperparah oleh stigma bahwa SD negeri kalah bersaing dalam hal fasilitas dan prestasi.
Mendikdasmen menyadari bahwa masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh sektor pendidikan saja. Koordinasi dengan Mendagri Tito Karnavian telah dilakukan secara nonformal, dan rencananya akan diadakan rapat khusus lintas kementerian. "Secara nonformal saya sudah menyampaikan masalah menurunnya jumlah murid SD kepada Bapak Mendagri. Nanti akan diadakan rapat khusus membahas fenomena tersebut," kata Mu'ti. Langkah ini diharapkan menghasilkan kebijakan terpadu, seperti redistribusi guru, optimalisasi dana BOS, atau bahkan merger sekolah.
Ke depan, pemerintah perlu memikirkan ulang model pendirian dan pengelolaan SD negeri agar lebih adaptif terhadap perubahan demografi dan preferensi masyarakat. Jika tidak, fenomena sekolah sepi peminat bukan hanya akan mengancam keberlangsungan institusi pendidikan negeri, tetapi juga menimbulkan kesenjangan akses pendidikan yang lebih lebar. Pertanyaannya, akankah rapat khusus antara Kemendikdasmen dan Kemendagri mampu menghasilkan terobosan yang signifikan, atau hanya akan menjadi diskusi tanpa tindakan nyata?



