BTN Buka Peluang Akuisisi Portofolio Kredit Konsumer Bank Lain, Targetkan Realisasi Tahun Depan
Baca dalam 60 detik
- BTN tengah menjajaki akuisisi portofolio kredit konsumer dari bank lain, meski belum ada kesepakatan konkret.
- Langkah ini melengkapi akuisisi tahap kedua dari SMBC Indonesia (BTPN) senilai Rp7,3 triliun yang akan rampung Agustus 2026.
- Ekspansi anorganik diharapkan mendorong pertumbuhan BTN melalui penambahan 344.600 nasabah baru dan peluang cross-selling produk perbankan.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) kembali menggelar strategi ekspansi agresif di segmen kredit konsumer. Setelah sukses mengakuisisi portofolio kredit PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (BTPN) tahap pertama, bank pelat merah ini kini membidik portofolio serupa dari bank lain. Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, mengungkapkan bahwa pembicaraan awal telah dimulai, meskipun belum mengarah pada transaksi final.
"Kami sedang berdiskusi dengan beberapa bank, tetapi belum ada keputusan. Masih tahap penjajakan," ujar Nixon dalam paparan kinerja semester I 2026 di Jakarta, Kamis (16/7/2026). Ia menambahkan, jika negosiasi berjalan lancar, realisasi akuisisi baru diperkirakan terjadi pada tahun depan. Fokus utama BTN saat ini adalah portofolio kredit konsumer, sejalan dengan bisnis inti perseroan yang menguasai pasar kredit pemilikan rumah (KPR) dan pembiayaan perumahan.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pertumbuhan anorganik BTN yang mulai masif dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya, BTN telah mengumumkan akuisisi portofolio kredit SMBC Indonesia (dahulu Bank Tabungan Pensiunan Nasional/BTPN) tahap kedua senilai Rp7,3 triliun. Transaksi tersebut dijadwalkan tuntas pada Agustus 2026 dan akan menambah 344.600 nasabah baru. Nixon menyebut imbal hasil dari nasabah baru itu "cukup menarik" dan berpotensi meningkatkan profitabilitas perseroan secara signifikan.
Bagi BTN, akuisisi portofolio kredit bukan sekadar menambah volume pembiayaan. Nixon menekankan bahwa langkah ini membuka peluang cross-selling produk-produk unggulan BTN, seperti aplikasi Bale by BTN untuk layanan perumahan, payroll funding, serta produk pendanaan dan investasi lainnya. "Kombinasi pertumbuhan organik dan anorganik akan mendorong kinerja kami lebih baik ke depan," tegasnya.
Dari sisi industri, tren akuisisi portofolio kredit antar bank mulai marak seiring dengan kebutuhan bank untuk memperkuat modal dan fokus pada bisnis inti. Bank-bank kecil cenderung melepas portofolio kredit konsumer yang membutuhkan biaya operasional tinggi, sementara bank besar seperti BTN memanfaatkan skala ekonomi untuk mengelola portofolio tersebut secara lebih efisien. Analis perbankan menilai strategi BTN tepat sasaran, terutama di tengah persaingan ketat segmen KPR dan konsumer yang dikuasai oleh bank swasta dan asing.
Bagi investor, langkah BTN ini memberikan sinyal positif tentang prospek pertumbuhan jangka panjang. Dengan tambahan basis nasabah yang loyal, potensi pendapatan berbasis biaya (fee-based income) dari cross-selling dapat meningkat. Namun, risiko integrasi dan kualitas kredit tetap perlu dicermati. Pertanyaan selanjutnya: apakah BTN mampu mempertahankan rasio kredit bermasalah (NPL) tetap rendah di tengah ekspansi agresif ini? Jawabannya akan terlihat dalam laporan keuangan kuartal-kuartal mendatang.



