Joe Root: Kurangnya Eksposur 50-over Jadi Masalah Besar bagi Inggris
Baca dalam 60 detik
- Joe Root mencetak 99 tak terkalahkan saat Inggris mengalahkan India di ODI kedua Cardiff.
- Root menyoroti minimnya pengalaman pemain muda Inggris di format 50-over karena jadwal domestik yang tumpang tindih dengan The Hundred.
- Inggris harus mempertahankan posisi di sembilan besar peringkat dunia untuk lolos otomatis ke Piala Dunia 2027.

Joe Root menegaskan bahwa kurangnya paparan terhadap kriket 50-over di level domestik menjadi tantangan terbesar bagi regenerasi timnas Inggris. Hal itu diungkapkan setelah ia menjadi pahlawan kemenangan Inggris atas India pada laga kedua ODI di Cardiff, Kamis (27/7/2024).
Root, yang kini berusia 35 tahun, mencetak 99 run tanpa terkalahkan dalam kondisi lapangan yang sulit. Inggris akhirnya menang empat wicket dengan mencapai target 234 run di atas 45 over. Penampilan Root menjadi pembeda, terutama saat ia mampu memutar strike dan memanfaatkan bola longgar dengan sempurna.
Menurut Root, para pemain muda Inggris harus "belajar sambil jalan" karena kompetisi One-Day Cup domestik kini digelar bersamaan dengan The Hundred. Akibatnya, turnamen 50-over itu lebih bersifat sebagai ajang pengembangan, bukan tempat mencari pengalaman matang. Data menunjukkan bahwa enam batter teratas Inggris secara kolektif memiliki pengalaman 400 pertandingan List A lebih sedikit dibandingkan rekan-rekan mereka di India.
Root menekankan bahwa kemampuan beradaptasi menjadi kunci. "Kamu harus berani dan tahu bahwa kamu bisa menyerap tekanan, karena kamu selalu punya lebih banyak waktu daripada yang kamu kira," ujarnya. Ia menambahkan bahwa semakin banyak "gigi" yang dimiliki seorang pemain, semakin baik dalam jangka panjang. Namun, tantangan terbesar bagi pemain Inggris adalah mereka terbiasa dengan T20 yang mengandalkan manipulasi lapangan, sementara dalam situasi seperti di Cardiff, mereka harus bisa bermain "jelek" sekalipun untuk menang.
Inggris memang tengah inkonsisten di ODI. Kekalahan di Edgbaston pada laga pembuka seri ini merupakan kekalahan ke-14 dalam 20 pertandingan terakhir. Peringkat kedelapan dunia membuat mereka harus waspada agar tetap di sembilan besar untuk mengamankan tiket otomatis Piala Dunia 2027. Root berharap timnya dinilai berdasarkan performa terkini, bukan masa lalu. Ia mencontohkan bagaimana Inggris mampu beradaptasi setelah kalah di laga pertama melawan Sri Lanka awal tahun ini, lalu memenangi seri tersebut.
Di sisi lain, sektor pembuka masih menjadi masalah. Jacob Bethell, yang baru 23 caps, hanya mencetak 14 dan 4 run dalam dua laga sebagai pendamping Ben Duckett. Root dan mantan kapten Jos Buttler (masing-masing 191 dan 201 caps ODI) menjadi satu-satunya pilar dari era kejayaan 2019. Meski demikian, Root optimistis kelompok baru ini bisa meniru kesuksesan pendahulunya. "Kami akan ke Lord's untuk laga penentu melawan India pada Minggu dengan segalanya dipertaruhkan, laga bertekanan tinggi menjelang Piala Dunia," katanya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat kriket mulai tumbuh di tanah air. Minimnya turnamen 50-over domestik juga menjadi kendala bagi pemain Indonesia yang ingin menembus level internasional. Pengalaman Inggris bisa menjadi pelajaran berharga: tanpa fondasi yang kuat di format 50-over, regenerasi pemain akan berjalan lambat. Apakah Indonesia bisa belajar dari kesalahan Inggris dan mulai membangun kompetisi 50-over yang berkelanjutan?



