Rupiah Berpotensi ke Rp17.000/US$: Harga Minyak Turun, Investor Global Kembali Melirik
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan rupiah dapat menguat hingga level Rp17.000 per dolar AS seiring penurunan harga minyak mentah dunia.
- Penurunan harga minyak dari level US$100 per barel diperkirakan mendorong perbaikan ekonomi global dan meningkatkan minat investor asing ke negara berkembang seperti Indonesia.
- S&P Global memproyeksikan rata-rata nilai tukar rupiah pada 2026 mencapai Rp17.700 per dolar AS, mendukung optimisme penguatan lebih lanjut.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat kembali ke kisaran Rp17.000-an, didorong oleh mulai meredanya tekanan harga minyak mentah global yang sempat melonjak akibat konflik di Timur Tengah. Keyakinan ini muncul saat rupiah baru saja keluar dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS, mencatat penguatan terkuat dalam sepekan terakhir.
Dalam konferensi pers di DI Yogyakarta, Kamis (16/7/2026), Purbaya menjelaskan bahwa harga minyak mentah yang mulai turun dari puncak US$100 per barel menjadi sinyal awal perbaikan ekonomi global. Meskipun sempat terjadi kenaikan tipis, ia menilai tren harga minyak akan tetap terkendali ke depan. "Perbaikan baru terjadi, harga minyak sempat turun walau naik lagi sedikit, saya pikir akan terkendali ke depan," ujarnya.
Penurunan harga minyak dipercaya akan memicu efek rambatan positif: biaya energi yang lebih rendah dapat memperkuat aktivitas ekonomi global, yang pada gilirannya meningkatkan kepercayaan investor terhadap negara berkembang dengan pertumbuhan tinggi seperti Indonesia. Menurut Purbaya, stabilitas ekonomi global akan mendorong investor asing untuk kembali masuk ke pasar Indonesia dalam waktu dekat. "Ekonomi global akan lebih baik dibanding bulan sebelumnya, prospek kita semakin bagus, dan kalau prospek bagus, kepastian global meningkat, artinya investor-investor global mulai melirik negara yang sedang berkembang atau menciptakan pertumbuhan tinggi seperti Indonesia," tuturnya.
Optimisme Purbaya juga didukung oleh proyeksi lembaga pemeringkat S&P Global yang memperkirakan rupiah akan berada di rata-rata Rp17.700 per dolar AS sepanjang 2026. Angka ini lebih kuat dibandingkan level saat ini, mengindikasikan ruang apresiasi yang masih terbuka. Namun, realisasi target tersebut sangat bergantung pada konsistensi penurunan harga minyak dan respons kebijakan moneter global, terutama dari bank sentral AS.
Bagi Indonesia, penguatan rupiah ke level Rp17.000-an membawa implikasi ganda. Di satu sisi, nilai tukar yang lebih kuat akan menekan biaya impor, terutama bahan baku dan energi, serta mengurangi beban utang luar negeri pemerintah dan swasta. Di sisi lain, eksportir komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit mungkin mengalami penurunan daya saing harga di pasar global. Investor domestik pun perlu mencermati pergerakan ini karena dapat mempengaruhi arus modal asing ke pasar saham dan obligasi.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah seberapa cepat dan seberapa dalam rupiah bisa menguat. Meskipun fundamental menunjukkan arah positif, risiko geopolitik dan kejutan kebijakan moneter global masih dapat mengubah lintasan. Apakah target Rp17.000/US$ akan tercapai dalam waktu dekat, atau justru membutuhkan waktu lebih lama mengingat ketidakpastian yang masih membayangi?



