BTN Catat Kredit Tumbuh 11,2%, NPL Membaik ke 3% di Semester I-2026
Baca dalam 60 detik
- Penyaluran kredit konsolidasi BTN mencapai Rp418,11 triliun hingga Juni 2026, didorong lonjakan segmen non-perumahan sebesar 46,1%.
- Rasio kredit bermasalah (NPL) gross turun dari 3,3% menjadi 3%, sementara loan at risk (LAR) juga menurun signifikan.
- BTN menargetkan porsi kredit non-perumahan mencapai 30% dalam lima tahun melalui akuisisi portofolio pensiun dan ekspansi beyond mortgage.

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) membukukan pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar 11,2% secara tahunan menjadi Rp418,11 triliun pada semester pertama 2026, didorong oleh ekspansi agresif di segmen non-perumahan yang melesat 46,1%.
Berdasarkan paparan kinerja perseroan pada Kamis (16/7/2026), kredit non-perumahan mencapai Rp85,22 triliun, naik dari Rp58,34 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini mencerminkan strategi diversifikasi BTN yang mulai membuahkan hasil, dengan pembiayaan menyasar sektor pendidikan, kesehatan, pemerintahan, lembaga keuangan, hingga ritel. Perseroan juga memperluas pembiayaan kendaraan bermotor melalui kerja sama dengan perusahaan multifinance sebagai bagian dari strategi beyond mortgage.
Meski demikian, kredit perumahan tetap menjadi tulang punggung dengan outstanding Rp332,88 triliun, tumbuh 4,8% yoy. Di dalamnya, KPR subsidi masih menjadi motor utama dengan peningkatan 8,1% menjadi Rp196,96 triliun. Sejak diluncurkan pada akhir Oktober 2025, Kredit Program Perumahan (KPP) telah tersalurkan sebesar Rp4,1 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan bahwa strategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, melainkan melengkapinya agar nasabah dapat mengakses kredit dari masa produktif hingga pensiun. "Kami ingin struktur bisnis yang lebih seimbang dan tidak terlalu bergantung pada pembiayaan perumahan," ujarnya.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) gross membaik menjadi 3% dibandingkan 3,3% pada Juni 2025. Rasio loan at risk (LAR) juga turun dari 20,2% menjadi 18,6% pada periode yang sama. Perbaikan ini menunjukkan manajemen risiko yang lebih ketat di tengah ekspansi kredit.
Untuk mempercepat diversifikasi, BTN telah menyelesaikan akuisisi tahap pertama portofolio kredit pensiun PT Bank SMBC Indonesia Tbk senilai sekitar Rp12,6 triliun. Akuisisi tahap kedua senilai Rp7,34 triliun dijadwalkan pada kuartal III-2026. Langkah ini sejalan dengan target perseroan meningkatkan porsi kredit non-perumahan secara bertahap hingga sekitar 30% dari total portofolio dalam lima tahun ke depan.
Bagi investor dan pelaku pasar, transformasi BTN menjadi bank yang lebih terdiversifikasi patut dicermati. Pertumbuhan kredit non-perumahan yang tinggi dan perbaikan NPL menjadi sinyal positif, namun tantangan ke depan adalah menjaga momentum ekspansi tanpa mengorbankan kualitas aset. Akankah target porsi kredit non-perumahan 30% tercapai tepat waktu?



