Argentina Bangkit dari Keterpurukan, Hancurkan Harapan Inggris di Semifinal Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Inggris gagal mempertahankan keunggulan setelah gol Anthony Gordon, kalah 2-1 dari Argentina di semifinal Piala Dunia.
- Lionel Messi menjadi motor kebangkitan Argentina dengan dua assist di babak kedua, menunjukkan kelasnya sebagai pemain top.
- Kekalahan ini menjadi pelajaran berharga bagi Inggris dan tim lain tentang bahaya bermain defensif terlalu dini.

Keputusan Inggris untuk bermain bertahan setelah unggul lebih dulu berakhir petaka di semifinal Piala Dunia, Rabu (15/7). Argentina, dengan Lionel Messi sebagai motor serangan, membalikkan keadaan dan menang 2-1 di Atlanta, memupus mimpi Inggris melaju ke final.
Anthony Gordon membawa Inggris unggul pada menit ke-55 melalui gol yang memanfaatkan kelengahan lini belakang Argentina. Namun, alih-alih terus menekan, Inggris justru memilih untuk mengamankan keunggulan. Strategi itu terbukti fatal. Argentina yang tidak pernah menyerah, seperti yang telah mereka tunjukkan saat mengalahkan Mesir di babak 16 besar setelah tertinggal 0-2, kembali menunjukkan mental juara.
Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, mengakui bahwa perubahan taktiknya tidak berjalan sesuai rencana. โSaya tidak merasa pergantian pemain ofensif akan membantu. Kami tetap di formasi 4-4-2 tetapi menjadi pasif, kebobolan banyak peluang, dan tidak bisa menguasai bola,โ ujarnya. Statistik membuktikan: Inggris hanya memiliki 12 persen penguasaan bola sejak gol Gordon hingga gol kemenangan Lautaro Martinez 38 menit kemudian.
Messi, yang selama satu jam pertama berhasil diredam oleh Elliot Anderson dan kawan-kawan, mulai menemukan ruang. Pergerakannya ke sayap kanan membuka celah baru. Umpan-umpan silangnya menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Inggris. Nico Gonzalez nyaris mencetak gol andai kiper Jordan Pickford tidak sigap, sementara sundulan Alexis Mac Allister membentur tiang. Tekanan terus-menerus akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-85 ketika Enzo Fernandez melepaskan tembakan dari luar kotak penalti yang tidak mampu dihalau Pickford. Gol itu tercipta setelah Jude Bellingham gagal menutup ruang tembak karena kelelahan.
Kemenangan Argentina tidak lepas dari determinasi dan pengalaman juara dunia. Mantan striker Inggris, Alan Shearer, menilai Tuchel salah membaca situasi. โDia memainkan kartunya terlalu awal dengan harapan bisa bertahan, dan itu bumerang. Argentina adalah juara dunia bukan hanya karena kemampuan, tetapi juga karena mentalitas dan sikap saat menghadapi tekanan,โ katanya.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menjadi tontonan yang mendebarkan sekaligus pelajaran berharga. Timnas Indonesia, yang kerap menghadapi tekanan dari tim-tim kuat Asia seperti Jepang dan Australia, bisa belajar dari kegagalan Inggris. Bermain bertahan setelah unggul bukanlah jaminan, apalagi jika lawan memiliki pemain-pemain kreatif seperti Messi. Pelatih Shin Tae-yong perlu menekankan pentingnya transisi cepat dan tetap agresif meski sudah unggul, agar tidak mengalami nasib serupa.
Argentina kini melaju ke final dengan modal kepercayaan diri tinggi. Sementara Inggris harus pulang dengan penyesalan. Pertanyaan besarnya: akankah tim-tim lain di Piala Dunia ini belajar dari kesalahan Inggris, atau justru mengulangi pola yang sama? Satu hal yang pasti, sepak bola modern tidak memberi ruang bagi tim yang hanya mengandalkan pertahanan tanpa keberanian menyerang.



