Satu Murid Baru di SDN 2 Salakaria: Ketika Kampung KB Menyisakan Ruang Kelas Sepi
Baca dalam 60 detik
- SDN 2 Salakaria di Ciamis hanya menerima satu siswa baru tahun ini, mencerminkan dampak program KB pada demografi usia sekolah.
- Kepala Dinas Pendidikan setempat menegaskan minimnya murid bukan karena kualitas sekolah, melainkan faktor kependudukan di kawasan Kampung KB.
- Fenomena ini menjadi tantangan pemerataan akses pendidikan di daerah dengan angka kelahiran rendah, namun guru tetap berupaya maksimal.

Di tengah hiruk-pikuk tahun ajaran baru, SD Negeri 2 Salakaria di Dusun Sukarasa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, hanya kedatangan satu murid kelas 1. Sekolah yang terletak di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Keluarga Berencana (KB) ini harus menerima kenyataan bahwa upacara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ini batal digelar di halamanโcukup dilakukan di dalam kelas.
Guru kelas 1, Maya Nurhidayah, mengaku sempat berharap lebih. Awalnya ada dua anak mendaftar, namun satu di antaranya pindah ke Bogor. "Saya tetap semangat menyambut murid baru meski hanya satu orang," ujarnya, Rabu (15/7). Maya, yang tahun ini beralih dari wali kelas 2 menjadi wali kelas 1, adalah guru honorer yang telah mengabdi di sekolah tersebut.
Kepala SDN 2 Salakaria, Deni Purnama, merinci total siswa saat ini hanya 32 orang. Kelas 1 hanya satu siswa, kelas 2 tujuh siswa, kelas 3 sembilan, kelas 4 lima, kelas 5 lima, dan kelas 6 enam. Menurut Deni, kondisi ini bukan hal baru. "Wilayah kami dikenal sebagai kampung KB sehingga jumlah anak usia sekolah tidak banyak. Biasanya setiap tahun kami menerima sekitar lima siswa, tetapi tahun ini hanya satu," jelasnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Erwan Darmawan, menegaskan bahwa minimnya jumlah murid bukan indikasi rendahnya mutu pendidikan. Setelah evaluasi, ditemukan bahwa faktor demografilah yang menjadi penyebab utama. "Banyak penduduk yang usianya sudah lanjut dan kawasan ini juga merupakan Kampung KB, sehingga jumlah kelahiran tidak banyak," tuturnya. Ia menambahkan, fenomena serupa juga terjadi di beberapa sekolah dasar lain di Lakbok, Rancah, dan wilayah Ciamis lainnya.
Meski jumlah siswa sedikit, semangat para guru tidak surut. Deni Purnama mengakui bahwa mengelola sekolah dengan jumlah murid minim bukan perkara mudah, namun kekompakan guru menjadi kekuatan utama. Sekolah ini bahkan memiliki fasilitas Interactive Flat Panel (IFP) sebagai media pembelajaran dan pernah meraih prestasi di tingkat provinsi. "Jumlah murid memang sedikit, tetapi kami terus berupaya memberikan pendidikan terbaik," kata Deni.
Erwan Darmawan memastikan bahwa pelayanan pendidikan tidak dibedakan berdasarkan jumlah siswa. Justru dengan sedikit murid, guru bisa memberikan perhatian lebih maksimal. Pemerintah daerah, menurutnya, tetap menjadikan sekolah-sekolah dengan jumlah siswa minim sebagai prioritas pembinaan. "Orang tua memiliki hak memilih sekolah. Tugas kami adalah memastikan layanan pendidikan tersedia dan terus ditingkatkan," ujarnya.
Fenomena satu murid baru di SDN 2 Salakaria menjadi cermin keberhasilan program KB sekaligus tantangan baru bagi pemerataan akses pendidikan di daerah dengan angka kelahiran rendah. Pertanyaan yang muncul: akankah model Kampung KB perlu diimbangi dengan kebijakan afirmatif untuk menjaga keberlangsungan sekolah-sekolah kecil di pedesaan?



