Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Melonjak dan Selat Hormuz Terancam Lumpuh
Baca dalam 60 detik
- Eskalasi militer AS-Iran di sekitar Selat Hormuz mendorong harga minyak Brent ke US$85,72 per barel, tertinggi dalam sebulan.
- Serangan balasan Iran ke pangkalan AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania memperluas cakupan konflik, mengancam pasokan energi global.
- Indonesia berpotensi mengalami kenaikan harga BBM dan tekanan inflasi jika gangguan pasokan minyak berkepanjangan.

Harga minyak mentah dunia kembali meroket setelah Amerika Serikat memperluas operasi militernya terhadap fasilitas pertahanan Iran di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global. Brent kontrak September ditutup di US$85,72 per barel pada Kamis (16/7/2026), naik 1,17% dalam sehari, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,98% ke US$80,12 per barel. Reli empat hari beruntun ini membawa kenaikan kumulatif Brent sebesar 12,8% dan WTI 12,2% sejak 10 Juli lalu.
Pemicu utama lonjakan harga adalah serangan AS terhadap sistem pertahanan pantai, lokasi penyimpanan, dan peluncur rudal jelajah Iran di Pulau Greater Tunb. Washington menyatakan operasi dua gelombang itu bertujuan membuka kembali Selat Hormuz yang ditutup Iran sejak akhir pekan lalu. Angkatan Laut AS juga menghentikan sebuah kapal tanker menuju Pulau Kharg setelah mengabaikan peringatan. Iran merespons dengan melancarkan rudal dan drone ke target militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Kuwait mengaku berhasil mencegat empat rudal dan 21 drone tanpa korban jiwa, namun insiden ini menandai perluasan konflik ke negara-negara Teluk lainnya.
Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyebut negaranya menghadapi “perang eksistensial dengan Amerika”. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim serangan balasan tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap agresi AS. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan Iran ingin berdiplomasi dan kedua pihak telah berkomunikasi, namun ia menegaskan kesiapan melanjutkan operasi militer jika negosiasi gagal.
Bagi Indonesia, eskalasi ini membawa risiko langsung terhadap harga energi domestik. Meski pemerintah memiliki cadangan dan subsidi BBM, lonjakan harga minyak global dalam jangka panjang dapat memperlebar defisit APBN dan mendorong inflasi. Indonesia mengimpor sekitar 40% kebutuhan minyak mentahnya, sehingga setiap kenaikan US$5 per barel berpotensi menambah beban impor hingga miliaran rupiah per tahun. Jika Selat Hormuz benar-benar lumpuh, rantai pasokan minyak dari Timur Tengah—pemasok utama Indonesia—terancam terganggu, memaksa pemerintah mencari alternatif dari Afrika atau Amerika yang lebih mahal.
Para analis memperkirakan volatilitas harga minyak masih akan tinggi dalam jangka pendek. “Selama Selat Hormuz belum beroperasi normal dan ancaman terhadap arus ekspor energi Timur Tengah masih nyata, premi risiko geopolitik akan terus mendorong harga,” ujar seorang pengamat energi dari Universitas Indonesia. Pasar masih menunggu perkembangan diplomasi AS-Iran, namun hingga kini belum ada tanda-tanda de-eskalasi yang signifikan.
Ke depan, pertanyaan kunci yang menggantung adalah apakah konflik ini akan berujung pada negosiasi atau justru perang terbuka. Jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz secara permanen, dunia akan menghadapi krisis energi yang belum pernah terjadi sejak embargo minyak 1973. Bagi Indonesia, skenario terburuk adalah lonjakan harga BBM dan pemadaman listrik di beberapa daerah yang bergantung pada pembangkit minyak. Pemerintah perlu segera menyiapkan langkah antisipatif, termasuk diversifikasi sumber impor dan percepatan transisi energi.



