Peta Risiko Demensia Global: Pendidikan Rendah Dominan di China, Obesitas di AS
Baca dalam 60 detik
- Studi Lancet Healthy Longevity memetakan 12 faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi di 14 negara, mengungkap variasi mencolok antarwilayah.
- Riset menunjukkan bahwa faktor risiko cenderung mengelompok dalam pola serupa secara global, membuka peluang intervensi terpadu.
- Temuan ini menekankan perlunya strategi pencegahan demensia yang disesuaikan dengan profil risiko spesifik setiap populasi.

Sebuah studi global yang diterbitkan di jurnal The Lancet Healthy Longevity mengungkap perbedaan mencolok dalam prevalensi faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi antarnegara, mulai dari rendahnya tingkat pendidikan di China hingga tingginya angka obesitas di Amerika Serikat. Riset yang menganalisis data lebih dari 214.000 lansia di 14 negara ini menawarkan peta jalan bagi intervensi yang lebih tepat sasaran.
Penelitian yang dipimpin oleh Emma Nichols, PhD, dari University of Southern California (USC) ini mengevaluasi 12 faktor risiko yang diketahui dapat diubah, termasuk tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, obesitas, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, depresi, kehilangan pendengaran, isolasi sosial, kurang aktivitas fisik, dan rendahnya pendidikan. Data dikumpulkan antara 2009 dan 2023 dari partisipan di Meksiko, Korea, China, Malaysia, Brasil, India, Amerika Serikat, Inggris, dan Irlandia.
Hasil studi menunjukkan bahwa rendahnya pendidikan memengaruhi 85,6% lansia di China, tetapi hanya 12% di AS. Sebaliknya, obesitas dan indeks massa tubuh (BMI) tinggi ditemukan pada 44,9% partisipan Amerika, dibandingkan hanya 13,3% di India. "Perbedaan prevalensi ini mengindikasikan bahwa pendekatan yang berbeda diperlukan untuk mengatasi beban demensia di setiap wilayah," kata Nichols. Ia mencontohkan, intervensi untuk meningkatkan pendidikan akan berdampak besar di China, namun tidak terlalu signifikan di AS.
Meski terdapat variasi, para peneliti juga menemukan pola pengelompokan faktor risiko yang serupa di berbagai negara. Faktor risiko kardiovaskular seperti hipertensi dan kolesterol tinggi cenderung muncul bersamaan, begitu pula perilaku berisiko seperti merokok dan konsumsi alkohol. "Kesamaan pola ini menunjukkan bahwa desain intervensi dan kebijakan dapat menggunakan kerangka serupa untuk mengatasi pengelompokan faktor risiko," ujar Nichols.
Dung Trinh, MD, seorang internis dari MemorialCare Medical Group yang tidak terlibat dalam studi, menekankan bahwa temuan ini memperkuat pengamatan klinis bahwa risiko demensia jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal. "Pengelompokan faktor risiko seperti hipertensi dengan kolesterol tinggi atau merokok dengan alkohol mendukung pendekatan terpadu di perawatan primer, bukan menangani setiap faktor secara terpisah," jelasnya. Ia juga mengingatkan bahwa strategi pencegahan yang berhasil di satu populasi belum tentu cocok untuk populasi lain.
Raphael Wald, PsyD, seorang neuropsikolog dari Marcus Neuroscience Institute, menambahkan bahwa studi ini membawa pesan optimistis. "Kesehatan otak dapat didukung sepanjang waktu. Meskipun tidak semua kasus demensia dapat dicegah, langkah-langkah yang melindungi jantung dan kesehatan secara umum juga melindungi otak," katanya. Wald mendorong organisasi kesehatan untuk beralih dari pendekatan satu ukuran untuk semua menuju strategi pencegahan yang mencerminkan komunitas yang mereka layani.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes yang tinggi, serta akses pendidikan yang masih timpang antardaerah. Studi ini menggarisbawahi perlunya data lokal yang lebih mendalam untuk merancang intervensi pencegahan demensia yang efektif, terutama di wilayah dengan beban penyakit kardiovaskular yang besar. Pertanyaan selanjutnya adalah: seberapa siap sistem kesehatan Indonesia mengintegrasikan pencegahan demensia ke dalam layanan primer?



