Investigasi Kecelakaan Air India Masuki Tahap Akhir, Rekaman Kokpit dan Otopsi Psikologis Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Badan investigasi India telah menyelesaikan transkrip rekaman kokpit dan otopsi psikologis dalam penyelidikan kecelakaan Boeing 787 Air India yang menewaskan 260 orang.
- Gugatan ayah kapten pilot memaksa AAIB mengungkap perkembangan penyelidikan, termasuk dugaan pemotongan pasokan bahan bakar oleh pilot.
- Laporan akhir diperkirakan rampung pada Oktober mendatang, melibatkan NTSB AS dan negara terkait lainnya.

Badan investigasi kecelakaan udara India (AAIB) mengumumkan telah menyelesaikan transkrip perekam suara kokpit dan melakukan otopsi psikologis terhadap salah satu kru, menandai fase akhir penyelidikan kecelakaan Air India yang menewaskan 260 orang tahun lalu. Perkembangan ini terungkap dalam dokumen pengadilan yang diajukan pekan ini.
Kecelakaan Boeing 787 tersebut terjadi tak lama setelah lepas landas dari Ahmedabad, India. Meski AAIB tidak merinci subjek otopsi psikologis atau temuannya, langkah ini menunjukkan pendekatan menyeluruh yang mencakup faktor manusia. Analisis data dari unit pemantau mesin yang baru diambil pada akhir Mei masih tertunda, sementara penilaian faktor organisasi masih berlangsung.
Investigasi telah mewawancarai puluhan pihak, termasuk pilot Air India lainnya, awak kabin yang pernah terbang bersama pilot kecelakaan, personel teknis, pengatur lalu lintas udara, ahli cuaca, dan spesialis faktor manusia. Keluarga kru penerbangan juga didatangi pada tahap awal penyelidikan.
Gugatan yang diajukan Pushkar Raj Sabharwal, ayah kapten pilot, memaksa AAIB mengungkap detail penyelidikan. Sabharwal keberatan dengan kunjungan penyidik ke rumahnya tahun lalu yang dianggap menyiratkan bahwa putranya sengaja memotong pasokan bahan bakar mesin setelah lepas landas. AAIB mengakui spekulasi media yang menyalahkan pilot telah membuat beberapa saksi menjadi "tertutup dan tidak responsif".
AAIB menyatakan penyelidikan kini memasuki fase analisis, dengan penyidik menarik temuan dan kesimpulan di area operasional, teknis, faktor manusia, dan organisasi. Badan tersebut memperkirakan sisa kegiatan investigasi akan selesai dalam waktu sekitar enam pekan, tergantung pada "ketergantungan eksternal". Draf laporan akhir dijadwalkan pada Oktober, kemudian diedarkan ke negara-negara terkait untuk dikomentari sebelum finalisasi dan publikasi. National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat menjadi salah satu penerima draf tersebut.
Penilaian awal pejabat AS tahun lalu, seperti dilaporkan Reuters, menyebutkan rekaman kokpit mendukung pandangan bahwa kapten memotong aliran bahan bakar ke mesin. Namun, AAIB saat itu menegaskan masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan pasti. Dengan pendekatan multidisiplin yang mencakup aspek psikologis dan organisasi, investigasi ini diharapkan dapat mengungkap akar penyebab secara komprehensif, tidak sekadar menyalahkan individu.
Bagi Indonesia, kecelakaan ini menjadi pengingat pentingnya investigasi kecelakaan udara yang transparan dan berbasis bukti. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia kerap menghadapi tantangan serupa dalam mengungkap faktor manusia dan organisasi. Proses Air India menunjukkan bahwa tekanan publik dan gugatan hukum dapat memaksa keterbukaan, namun juga berisiko menghambat kesaksian. Pertanyaan kritisnya: akankah laporan akhir AAIB mampu memulihkan kepercayaan publik terhadap keselamatan penerbangan India, atau justru memperdalam kontroversi seputar peran pilot?



