Integrasi Ekonomi Singapura-Malaysia: Ada yang Rugi, Tapi Untung Lebih Besar, Kata Presiden Tharman
Baca dalam 60 detik
- Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam mengakui sebagian bisnis negerinya akan terdampak negatif akibat integrasi ekonomi dengan Malaysia, namun menekankan manfaat jangka panjang bagi kedua negara.
- Proyek Johor-Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ) dan RTS Link menjadi motor utama integrasi, dengan potensi mengubah lanskap investasi dan mobilitas tenaga kerja di kawasan.
- Keselarasan pandangan kedua negara di ASEAN dan isu global seperti UNCLOS memperkuat posisi kawasan di tengah fragmentasi geopolitik dunia.

Presiden Singapura, Tharman Shanmugaratnam, secara terbuka mengakui bahwa penguatan integrasi ekonomi dengan Malaysia akan menimbulkan kerugian bagi sebagian pelaku usaha di negaranya, namun ia menegaskan bahwa manfaat kolektif yang diperoleh jauh lebih besar. Pernyataan ini disampaikan di akhir kunjungan kenegaraan selama empat hari di Malaysia, Rabu (15/7), menandai sikap realistis kedua negara dalam menjalin hubungan bilateral yang semakin erat.
Menurut Tharman, inisiatif seperti Johor-Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ) yang mulai beroperasi pada 2025 dan proyek kereta cepat Johor Bahru-Singapore Rapid Transit System (RTS) Link yang ditargetkan berjalan pada Januari 2027, akan memperkuat saling melengkapi ekonomi kedua negara. "Bukan rahasia lagi bahwa dengan menghubungkan lebih erat dengan Johor, beberapa sektor jasa di Singapura akan kehilangan pangsa pasar. Namun, sektor lain akan diuntungkan, dan secara keseluruhan kedua negara menjadi pemenang," ujarnya kepada wartawan di Kuala Lumpur.
Pernyataan Tharman mencerminkan pendekatan matang dalam hubungan bilateral. "Kita harus menerima bahwa di balik kemenangan besar, pasti ada yang kalah. Itulah cara berpikir dewasa dalam menjalin hubungan, baik bagi Singapura maupun Malaysia," tambahnya. Sikap ini dianggap penting untuk menjaga momentum integrasi yang telah dibangun, terutama di tengah kekhawatiran dunia usaha terhadap dampak persaingan lintas batas.
Di luar kerja sama bilateral, Tharman menyoroti keselarasan visi Singapura dan Malaysia dalam memperkuat Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Ia optimistis kawasan ini dapat menjadi pusat tenaga hijau dan daya pemrosesan, terutama untuk mendukung pusat data di Malaysia. "Kepentingan nasional setiap negara anggota ASEAN mendorong kita untuk bersatu dalam energi hijau, daya pemrosesan, dan ekonomi digital," kata Tharman. Menurutnya, ASEAN yang lebih kuat akan membantu negara-negara anggotanya menghadapi fragmentasi global yang semakin tajam.
Dalam forum pers, Tharman juga menegaskan bahwa Singapura dan Malaysia memiliki pandangan serupa dalam isu-isu internasional utama, termasuk dukungan terhadap United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) dan prinsip pelayaran bebas di Selat Malaka dan Singapura tanpa pungutan biaya. Kedua negara berkomitmen bekerja sama dengan Indonesia sebagai negara pantai untuk mengelola selat tersebut secara sukarela demi keselamatan navigasi dan perlindungan lingkungan. "Ini adalah contoh bagaimana negara pantai dapat mengelola jalur air internasional secara saling menguntungkan dan tetap mematuhi hukum laut," ujarnya.
Menyinggung hubungan dengan negara bagian Malaysia, Tharman mengungkapkan bahwa kunjungannya ke Selangor membahas kerja sama pendidikan vokasi, pembersihan Sungai Singapura, dan mitigasi banjir. Pemerintah Selangor, katanya, tertarik mempelajari pengalaman Singapura dalam penanganan lingkungan. Ia juga mencontohkan investasi SIA Engineering yang baru mendirikan fasilitas perawatan pesawat di Subang sebagai bukti minat perusahaan Singapura di Selangor.
Ke depan, Tharman berharap hubungan kedua negara semakin erat melalui program pertukaran pemuda, magang, dan kewirausahaan yang memungkinkan generasi muda menghabiskan waktu lebih lama bersama. "Tidak ada yang bisa menggantikan kebersamaan dalam waktu lama untuk membangun persahabatan abadi dan saling pengertian," katanya. Ia juga mendorong kolaborasi seni untuk memberikan daya tarik baru bagi tradisi bersama di kalangan generasi muda.
Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana kesiapan dunia usaha, khususnya di Indonesia, dalam merespons dinamika integrasi ini? Dengan Singapura dan Malaysia yang semakin terpadu, peluang dan tantangan bagi pelaku bisnis Indonesia di kawasan pun kian terbuka lebar.



