Sri Lanka Gandeng Militer Perangi Demam Berdarah: 49 Tewas, Kasus Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Sri Lanka mencatat 61.057 kasus dengue pada semester I 2026, dua kali lipat dibanding periode sama tahun lalu, dengan 49 kematian.
- Pemerintah menggandakan jumlah tenaga medis dan personel keamanan mulai Kamis (16/7) untuk memperluas operasi di Colombo dan dua distrik terdampak.
- WHO memperingatkan perubahan iklim mempercepat penyebaran virus dengue, mengancam negara tropis seperti Indonesia.

Kolombo, Sri Lanka โ Pemerintah Sri Lanka meningkatkan operasi pemberantasan demam berdarah dengue dengan melibatkan personel militer setelah jumlah kematian akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes itu mencapai 49 jiwa sejak awal tahun 2026. Langkah ini diambil menyusul lonjakan kasus yang lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala Unit Pengendalian Dengue Nasional, Kapila Kannangara, mengumumkan mulai Kamis (16/7) jumlah tenaga medis dan personel keamanan yang dikerahkan akan digandakan. Fokus utama operasi ini adalah ibu kota Kolombo serta dua distrik tetangga yang menjadi wilayah paling parah terdampak. Sebelumnya, militer telah dikerahkan sejak bulan lalu untuk mengidentifikasi dan menghancurkan tempat perkembangbiakan nyamuk.
Data resmi menunjukkan sebanyak 61.057 orang terinfeksi dengue dalam enam bulan pertama tahun ini, melonjak drastis dibandingkan 30.060 infeksi pada periode yang sama tahun 2025. Lebih dari 15.000 kasus baru tercatat hanya dalam bulan Juli ini. Meski demikian, angka ini masih lebih rendah dibandingkan rekor tahun 2017 yang mencapai 186.000 kasus dan 440 kematian.
Kannangara menegaskan perlunya pengendalian penyebaran virus tanpa penundaan untuk mencegah kelebihan kapasitas rumah sakit. Demam berdarah dengue menyebabkan demam tinggi, sakit kepala parah, mual, muntah, nyeri otot, dan pada kasus serius dapat menyebabkan pendarahan yang berujung kematian. Nyamuk Aedes, yang mudah dikenali dari garis hitam-putih di kakinya, berkembang biak di genangan air bersih.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa dengue dan virus bawaan nyamuk lainnya menyebar lebih cepat dan luas akibat perubahan iklim. Peningkatan suhu global dan pola curah hujan yang tidak menentu menciptakan kondisi ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak di wilayah yang sebelumnya tidak endemis.
Bagi Indonesia, situasi di Sri Lanka menjadi pengingat akan kerentanan serupa. Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban dengue tertinggi di dunia. Data Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 150.000 kasus dengue pada 2025 dengan ratusan kematian. Lonjakan kasus di Sri Lanka menunjukkan bahwa tanpa pengendalian vektor yang ketat, ledakan kasus dapat terjadi kapan saja, terutama saat musim hujan.
Pemerintah Sri Lanka berharap perluasan operasi militer ini mampu menekan angka kasus sebelum mencapai puncak musim penularan. Namun, tantangan besar masih ada, mengingat nyamuk Aedes telah menunjukkan resistensi terhadap beberapa insektisida dan perilaku masyarakat yang sulit diubah. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah pendekatan militeristik ini cukup efektif dalam jangka panjang, atau justru diperlukan strategi berbasis komunitas yang lebih berkelanjutan?



