Koroner Vonis: Gangguan Otak Nobby Stiles Akibat Sering Menyundul Bola
Baca dalam 60 detik
- Pemain legendaris Inggris dan Manchester United, Nobby Stiles, dinyatakan meninggal karena demensia berat yang dipicu oleh CTE akibat kebiasaan menyundul bola.
- Sepanjang kariernya, Stiles diperkirakan menyundul bola hingga 140.000 kali, setara 40 kali sehari selama musim kompetisi.
- Kasus ini kembali memicu seruan untuk perlindungan lebih bagi pemain sepak bola, termasuk di Indonesia, terhadap risiko cedera kepala kronis.

Koroner di Stockport, Inggris, secara resmi menyimpulkan bahwa legenda sepak bola Inggris, Nobby Stiles, meninggal dunia akibat penyakit otak degeneratif yang dipicu oleh kebiasaan menyundul bola selama kariernya. Stiles, yang merupakan bagian dari tim nasional Inggris juara Piala Dunia 1966, tutup usia pada 2020 dalam usia 78 tahun setelah bergelut dengan demensia berat.
Dalam sidang inkuisisi yang digelar di Stockport Coroners' Court, terungkap bahwa Stiles diperkirakan telah menyundul bola sebanyak 140.000 kali sepanjang karier profesionalnya. Ahli neuropatologi Dr. Daniel Du Plessis dari Salford Royal Hospital menyatakan keyakinannya bahwa frekuensi menyundul tersebut menjadi penyebab utama Chronic Traumatic Encephalopathy (CTE) yang diderita Stiles. "Saya cukup yakin bahwa menyundul bola sebanyak itu telah menyebabkan CTE-nya," ujar Du Plessis di hadapan pengadilan.
Koroner Senior Alison Mulch mencatat penyebab kematian Stiles sebagai penyakit Alzheimer yang diperparah oleh CTE, serta kondisi neurodegeneratif lain dan penyakit serebrovaskular. Stiles, yang lahir di Collyhurst, Manchester pada 1942, dikenal sebagai gelandang bertahan tangguh. Ia tampil 28 kali untuk Inggris dan hampir 400 kali untuk Manchester United sebelum akhirnya dirawat di panti jompo di Stretford, Greater Manchester.
Putra Stiles, John, memberikan kesaksian bahwa ayahnya terbiasa menyundul bola hingga 40 kali sehari, lima hari seminggu, selama 10 bulan setiap musim. "Menyundul bola dalam latihan sangat masif," katanya. John juga mengungkapkan bahwa keluarga mulai menyadari gejala pelupa dan pertanyaan berulang pada Stiles saat usianya memasuki akhir 50-an hingga awal 60-an. "Untuk waktu yang lama, ada perasaan doom yang mengerikan di keluarga—kami tidak tahu apa yang terjadi, tapi kami bisa merasakannya datang," kenangnya.
Kasus Stiles bukanlah yang pertama. Sejumlah mantan pemain sepak bola Inggris lainnya, seperti Jeff Astle, juga mengalami demensia yang dikaitkan dengan kebiasaan menyundul bola. Temuan ini kembali menekankan perlunya regulasi yang lebih ketat terkait latihan menyundul, terutama di level junior. Di Indonesia, praktik menyundul bola masih menjadi bagian tak terpisahkan dari latihan sepak bola, mulai dari akademi hingga klub profesional. Namun, kesadaran akan risiko CTE masih sangat minim. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) belum memiliki protokol khusus mengenai batasan frekuensi menyundul dalam latihan.
Menurut Dr. Du Plessis, "Ini adalah isu yang sangat rumit dan penting untuk menggunakan kematian seperti ini sebagai sorotan—bahwa kita sekarang tahu cedera kepala berulang memiliki dampak pada otak." Pernyataan ini menegaskan urgensi penelitian lebih lanjut dan perubahan kebijakan di dunia sepak bola global. Sementara itu, John Stiles menekankan bahwa ayahnya bukanlah tipe orang yang menggantungkan identitas pada sepak bola. "Keluarga selalu menjadi prioritas utama, lalu teman-temannya," ujarnya. "Kami lebih bangga pada ayah daripada pesepakbola."
Koroner Mulch mencatat bahwa Stiles juga menderita kondisi "stage three limbic predominant age related TDP-43" serta penyakit serebrovaskular sebagai faktor kontribusi. Ia menambahkan ironi bahwa sidang digelar pada hari yang sama dengan pertandingan semifinal Piala Dunia Inggris melawan Argentina. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah otoritas sepak bola, termasuk di Indonesia, mengambil langkah konkret untuk melindungi pemain dari risiko serupa di masa depan?



