Atlet Perempuan Lawan Seksualisasi di Layar: EBU Terbitkan Pedoman Sudut Kamera
Baca dalam 60 detik
- Pedoman baru EBU melarang sudut kamera rendah dan gerak lambat berlebihan yang mengekspos atlet perempuan secara tidak pantas.
- Atlet seperti Holly Bradshaw dan Ivana Spanovic mengaku mengalami pelecehan daring dan gangguan mental akibat liputan yang tidak sensitif.
- Pedoman ini akan diuji coba pada Kejuaraan Atletik Eropa Agustus mendatang, namun belum menjangkau ajang seperti Diamond League.

Serikat Penyiaran Eropa (EBU) merilis pedoman baru bagi stasiun televisi untuk menghindari pengambilan gambar yang merendahkan atlet perempuan saat siaran langsung pertandingan atletik. Langkah ini muncul setelah sejumlah atlet elite melaporkan pelecehan daring dan dampak psikologis akibat sudut kamera yang dianggap seksual.
Pedoman yang disusun bersama atlet seperti peraih medali perunggu Olimpiade Holly Bradshaw (lompat galah) dan Ivana Spanovic (lompat jauh) ini secara eksplisit melarang sudut kamera rendah dari bawah, terutama pada nomor lompat galah dan lompat tinggi. Rekaman gerak lambat yang berlebihan dan tanpa nilai teknis juga masuk daftar hitam. โKami melihat kamera yang terus-menerus menyorot bagian tubuh, sudut rendah yang menangkap pemandangan mengundang, dan tayangan ulang super lambat yang tidak mendukung narasi olahraga,โ ujar Glen Killane, Direktur Eksekutif EBU Sport, dalam pernyataan resmi.
Bradshaw mengungkapkan pengalaman pahitnya: ia menerima kiriman video tidak pantas dari pertandingan yang direkam dengan sudut kamera tertentu. โSaya sendiri menjadi sasaran pelecehan media sosial dan menyaksikan video tidak senonoh dari rekan-rekan atlet,โ katanya. Ia menambahkan bahwa atlet kerap lebih khawatir terhadap posisi kamera ketimbang performa mereka sendiri. Spanovic bahkan menyebut efek jangka panjang terhadap kesehatan mental atlet sebagai risiko serius.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak era Olimpiade London 2012, berbagai riset menunjukkan bahwa liputan olahraga perempuan sering kali lebih menonjolkan penampilan fisik ketimbang prestasi. Di Indonesia, sorotan serupa pernah dialami atlet bulu tangkis dan voli pantai, di mana sudut kamera yang tidak sensitif memicu perdebatan di media sosial. Meski belum ada regulasi khusus di dalam negeri, langkah EBU bisa menjadi preseden bagi penyiaran olahraga di Asia Tenggara.
EBU menyusun daftar โboleh dan tidak bolehโ yang mencakup larangan kamera di bawah atlet saat melompat, serta pembatasan durasi gerak lambat. Namun, pedoman ini tidak bersifat mengikat secara universal. Ajang seperti Diamond League, yang juga disiarkan BBC tetapi tidak melalui EBU, belum tentu mengikutinya. Hal ini menimbulkan celah: atlet bisa tetap terekspos sudut kamera yang sama di kompetisi berbeda.
Kejuaraan Atletik Eropa pada 10 Agustus nanti akan menjadi ujian pertama implementasi pedoman ini. Pertanyaannya, mampukah perubahan sudut kamera mengubah budaya siaran olahraga yang sudah mengakar? Atau justru akan muncul resistensi dari produser yang menganggap sudut dramatis sebagai bagian dari tontonan?



