Kunjungan Turis Asing ke Jepang Anjlok 2% di Semester I 2026, China Merosot Lebih dari Setengah
Baca dalam 60 detik
- Jumlah wisatawan asing ke Jepang turun 2% pada paruh pertama 2026, menjadi 21,1 juta kunjungan.
- Turis China anjlok 56,4% akibat ketegangan diplomatik terkait pernyataan PM Jepang soal Taiwan.
- Kunjungan dari Korea Selatan, Taiwan, dan AS justru meningkat, menandai pergeseran pasar pariwisata Jepang.

Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Jepang pada semester pertama 2026 tercatat 21,1 juta orang, turun 2,0% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terutama dipicu oleh merosotnya wisatawan asal China yang lebih dari setengah, imbas memburuknya hubungan bilateral kedua negara.
Data dari Japan National Tourism Organization (JNTO) yang dirilis Rabu (15/7) menunjukkan bahwa kedatangan turis China anjlok 56,4% menjadi hanya 2,06 juta orang. Sebaliknya, jumlah pengunjung dari Korea Selatan, Taiwan, dan Amerika Serikat justru mencatatkan pertumbuhan positif pada paruh pertama tahun ini.
Penurunan drastis wisatawan China tidak lepas dari pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November 2025 lalu yang menyinggung potensi keterlibatan Jepang dalam kontingensi Taiwan. Beijing yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya langsung bereaksi dengan mengimbau warganya untuk menunda perjalanan ke Jepang. Langkah ini menjadi pukulan telak bagi industri pariwisata Negeri Sakura yang sebelumnya sangat bergantung pada pasar China.
Pada Juni 2026 saja, total kunjungan asing mencapai 3,15 juta orang, turun 6,8% secara tahunan. Angka ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap sektor pariwisata Jepang belum mereda, meskipun ada peningkatan dari negara-negara lain.
Bagi Indonesia, kondisi ini membuka peluang sekaligus tantangan. Jepang selama ini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan Indonesia, dan tren penurunan turis China bisa mendorong Jepang untuk lebih agresif mempromosikan pariwisata ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Namun, ketegangan geopolitik di kawasan juga perlu diwaspadai karena dapat mempengaruhi stabilitas perjalanan regional.
Menurut analis pariwisata, penurunan wisatawan China tidak hanya berdampak pada sektor perhotelan dan ritel, tetapi juga pada maskapai penerbangan dan operator tur yang selama ini mengandalkan rute China-Jepang. Jepang kini harus mencari keseimbangan baru dengan memperkuat pasar alternatif seperti Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Jepang mampu mempertahankan momentum pertumbuhan dari negara-negara lain untuk mengompensasi hilangnya kontribusi China, atau justru akan terjadi stagnasi berkepanjangan jika ketegangan diplomatik tak kunjung mereda.



