Teddy Swims: Jadi Ayah Baru, Tetap ‘Hadir’ Lewat FaceTime di Tengah Tur
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Teddy Swims mengaku setiap hari menelepon video putranya yang berusia 13 bulan saat sedang tur, meski perhatian anaknya hanya bertahan sekitar 90 detik.
- Perpisahan dengan kekasihnya, Raiche Wright, tak menyurutkan tekadnya menjadi ayah yang hadir secara emosional, sebuah tantangan yang juga dihadapi banyak pekerja kreatif Indonesia.
- Menjadi ayah mengubah cara pandang Teddy terhadap kesibukan; ia kini lebih memilih meluangkan waktu tanpa gawai demi kehadiran penuh bagi sang buah hati.

Di tengah jadwal tur yang padat dan status hubungan yang baru saja berakhir, penyanyi Teddy Swims memilih jalan berbeda: setiap hari ia menyempatkan panggilan video dengan putranya yang masih balita. Bagi pelantuk "Mr. Know It All" ini, menjadi ayah yang hadir secara emosional sama pentingnya dengan kesuksesan di atas panggung.
Teddy Swims, yang bernama asli Jaten Dimsdale, mengakui bahwa perpisahan dengan Raiche Wright—ibu dari Theodore yang kini berusia 13 bulan—tidak mengubah komitmennya sebagai orangtua. Dalam wawancara dengan Us Weekly, ia mengungkapkan rutinitas harian yang ia jalani: menelepon putranya via FaceTime saat sarapan, makan siang, atau makan malam, meski perbedaan waktu mencapai lima jam. "Dengan anak satu tahun, Anda hanya dapat perhatian sekitar satu setengah menit, lalu ia beralih ke hal lain. Tapi setidaknya ia senang melihat saya," ujarnya.
Bagi musisi yang tengah naik daun ini, teknologi menjadi jembatan untuk tetap terhubung. Namun ia sadar, tidak semua rekan seprofesi memiliki kemewahan yang sama. "Ada banyak pria dengan pekerjaan seperti saya yang tidak bisa bicara atau melihat anak mereka sama sekali. Saya sangat bersyukur bisa bertatap muka, meski lewat layar," katanya.
Kisah Teddy menyoroti dilema yang akrab bagi banyak orangtua pekerja di Indonesia, terutama mereka yang harus meninggalkan keluarga karena tuntutan profesi—dari musisi, pekerja kantoran, hingga tenaga migran. Di era digital, panggilan video menjadi solusi praktis, namun tantangan tetap ada: keterbatasan perhatian anak dan kesenjangan waktu. Psikolog anak di Jakarta, yang enggan disebut namanya, menilai bahwa konsistensi komunikasi seperti yang dilakukan Teddy dapat memperkuat ikatan emosional, asalkan orangtua tidak hanya hadir secara fisik di layar, tetapi juga secara mental.
Menjadi ayah telah mengubah perspektif Teddy tentang waktu. Ia mengaku sering duduk diam bersama putranya tanpa melakukan apa pun—tanpa ponsel, tanpa gangguan. "Dia hanya ingin Anda menatap matanya, melihat apa yang ia lakukan. Ia akan menoleh ke belakang seolah bertanya, 'Apa kamu melihat?' Dan itu menjadi hal terpenting bagi saya," kenangnya. Meski terdengar klise, Teddy bertekad untuk "membuat waktu berarti" dalam setiap aspek kehidupannya.
Di tengah budaya media sosial yang kerap menampilkan kehidupan sempurna, Teddy justru menemukan kedamaian dalam momen-momen sederhana bersama anaknya. "Kita terus-menerus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain, atau kehidupan palsu yang mereka perlihatkan. Itu sangat menguras energi," katanya. Kini, kehadiran Theodore menjadi pengingat untuk melambat dan fokus pada hal yang nyata.
Ke depan, Teddy berharap dapat terus menyeimbangkan karier dan peran sebagai ayah. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan rutinitas ini saat jadwal tur semakin padat? Atau akankah teknologi menjadi pisau bermata dua yang justru menjauhkan? Yang jelas, bagi Teddy, menjadi ayah adalah peran yang tidak pernah ia rencanakan, namun kini menjadi pusat dari segalanya.



