Lonjakan Ekspor Durian Vietnam ke China: Petani Menuai Berkah, Ekonomi Regional Terdongkrak
Baca dalam 60 detik
- Ekspor durian resmi Vietnam ke China sejak 2022 mendorong pendapatan petani hingga miliaran dong, menstabilkan harga, dan meningkatkan kesejahteraan.
- Vietnam meraup 3,5 miliar dolar AS dari ekspor durian ke China tahun lalu, menjadikannya komoditas utama dalam perdagangan pertanian bilateral.
- Forum perdagangan pertanian Vietnam-China menekankan penguatan rantai pasok, membuka peluang bagi negara ASEAN lain, termasuk Indonesia, untuk belajar dari model ini.

Sejak pintu ekspor resmi durian Vietnam ke China dibuka pada 2022, geliat ekonomi di perkebunan-perkebunan Lam Dong dan provinsi sentra lainnya tak lagi sama. Petani yang dulu hanya menggantungkan nasib pada pasar domestik kini menikmati harga yang lebih stabil dan pendapatan yang meroket, seiring permintaan konsumen China yang terus membengkak.
Ho Minh Nhat, seorang pemanen durian di komune Da Huoai, mengakui perubahan drastis dalam hidupnya. Sebelum era ekspor resmi, ia kerap kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kini, setelah durian-duriannya dikirim ke China, ia bisa membeli daging dan makanan lain yang dulu dianggap mewah. โHarga menjadi jauh lebih baik ketika ekspor meningkat,โ ujarnya kepada Xinhua. Fenomena serupa dialami Le Thi Ngoc Bich, pemilik kebun durian selama sepuluh tahun. Tahun lalu, pendapatannya mencapai 4 miliar dong (sekitar 158.700 dolar AS), cukup untuk menyewa lahan tambahan lima hektare dan memperluas usaha.
Data Kementerian Pertanian Vietnam menunjukkan, China tetap menjadi pasar ekspor agro-kehutanan-perikanan terbesar Vietnam. Pada 2025, nilai ekspor buah dan sayuran ke China mencapai 5,5 miliar dolar AS, dengan durian menyumbang 3,5 miliar dolar AS. Angka ini mencerminkan betapa strategisnya komoditas berduri itu dalam neraca perdagangan bilateral.
Di balik lonjakan ekspor ini, terdapat rantai pasok yang terus diperkuat. KK Premium Fruits, salah satu eksportir utama, mengirimkan lima hingga tujuh kontainer durian ke China setiap hari. Chairman perusahaan, Le Duc Minh Khoa, mengungkapkan bahwa pihaknya mempelajari kawasan budidaya utama Vietnam dan mengunjungi fasilitas pengolahan di Thailand sebelum memutuskan berinvestasi. โKami ingin memastikan buah terbaik sampai ke pelanggan China,โ kata Production Manager Nguyen Pham Dang. Pabriknya tahun ini menargetkan produksi 14.000โ16.000 ton durian, atau lima persen dari total output provinsi.
Forum perdagangan pertanian Vietnam-China yang digelar di Ho Chi Minh City baru-baru ini menjadi ajang untuk memperkuat koneksi antarpelaku usaha. Wakil Menteri Luar Negeri Vietnam Nguyen Minh Vu menekankan pentingnya hubungan yang lebih erat antara produsen, pengolah, pedagang, dan distributor guna membangun rantai pasok berkelanjutan. Sementara itu, Duta Besar China untuk Vietnam He Wei menyatakan bahwa kerja sama pertanian kedua negara telah menunjukkan momentum kuat dan siap didorong menuju pengembangan terkoordinasi di seluruh rantai industri.
Bagi Indonesia, kisah sukses durian Vietnam menawarkan pelajaran berharga. Sebagai sesama produsen durian tropis, Indonesia memiliki potensi besar untuk menembus pasar China, asalkan mampu memenuhi standar kualitas dan fitosanitasi yang ketat. Namun, tantangan seperti fragmentasi lahan, rendahnya adopsi teknologi pascapanen, dan lemahnya integrasi rantai pasok masih menjadi hambatan. Jika Indonesia ingin meniru jejak Vietnam, diperlukan sinergi antara pemerintah, petani, dan swasta untuk membangun ekosistem ekspor yang kokoh.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah durian bisa menjadi primadona ekspor Indonesia, melainkan seberapa cepat langkah konkret diambil untuk merebut peluang di tengah persaingan ketat dengan Vietnam dan Thailand.



