Gerebek Rumah di Mandalay: Polisi Myanmar Sita 2,34 Juta Pil Ekstasi dan 8 Kg Heroin
Baca dalam 60 detik
- Penggerebekan di Yamethin, Mandalay, menghasilkan penyitaan 2,34 juta pil stimulan dan 8,14 kg heroin dalam operasi terpisah.
- Tiga tersangka ditangkap dalam dua hari penggerebekan, menunjukkan jaringan narkoba masih aktif di kawasan tengah Myanmar.
- Kasus ini menjadi pengingat bagi Indonesia akan pentingnya pengawasan jalur narkoba dari Golden Triangle yang kerap menyasar pasar domestik.

Otoritas Myanmar kembali menorehkan keberhasilan besar dalam pemberantasan narkotika. Dalam dua operasi terpisah di wilayah Mandalay, aparat berhasil menyita lebih dari 2,34 juta tablet stimulan dan 8,14 kilogram heroin. Penggerebekan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir di kawasan tengah Myanmar.
Operasi pertama dilakukan pada 6 Juli lalu di Yamethin, sebuah kota di Region Mandalay. Berdasarkan informasi intelijen, polisi antinarkoba menggerebek rumah seorang tersangka dan menemukan tumpukan pil stimulan dalam jumlah masif. Keesokan harinya, penyelidikan mengarah pada penangkapan dua tersangka tambahan yang diduga terlibat dalam jaringan peredaran barang haram tersebut.
Pada hari yang sama, operasi kedua digelar di Pyawbwe, kota lain di Mandalay. Dua tersangka lainnya ditangkap dengan barang bukti 8,14 kilogram heroin. Seluruh tersangka kini telah dijerat dengan undang-undang antinarkotika Myanmar dan tengah menjalani proses hukum.
Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Myanmar masih menjadi salah satu titik rawan produksi dan transit narkoba di kawasan Asia Tenggara. Mandalay, yang terletak di jalur perdagangan utama, kerap dijadikan tempat persembunyian barang haram sebelum didistribusikan ke negara lain, termasuk Indonesia.
Bagi Indonesia, berita ini menjadi alarm tersendiri. Jalur perdagangan narkoba dari Myanmarโbagian dari segitiga emas (Golden Triangle)โsering kali menembus perbatasan Thailand dan Malaysia sebelum masuk ke Indonesia. Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat bahwa sabu dan heroin asal Myanmar kerap ditemukan dalam penggerebekan di dalam negeri. Penyitaan besar di Mandalay bisa berarti tekanan terhadap rantai pasok, namun juga bisa memicu pergeseran rute ke jalur yang lebih rawan.
Menurut analis keamanan regional, penggerebekan ini juga menyoroti lemahnya pengawasan di daerah pedalaman Myanmar pasca kudeta militer 2021. Ketidakstabilan politik membuat kelompok kriminal semakin leluasa beroperasi. โSemakin besar penyitaan, semakin besar indikasi bahwa produksi tidak berkurang, hanya jalurnya yang berubah,โ ujar seorang pengamat narkotika yang enggan disebut namanya.
Dengan lima tersangka yang sudah ditahan, aparat Myanmar masih terus mengembangkan penyelidikan untuk membongkar jaringan yang lebih luas. Pertanyaan besarnya: apakah operasi ini hanya puncak gunung es dari perdagangan narkoba yang jauh lebih besar di kawasan?



