Misi Luar Angkasa AS-Rusia Berlanjut: Awak Gabungan Tiba di ISS di Tengah Ketegangan Geopolitik
Baca dalam 60 detik
- Astronot NASA Anil Menon bersama dua kosmonot Rusia berhasil mencapai Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) untuk misi delapan bulan.
- Kehadiran Administrator NASA Jared Isaacman di Baikonur menjadi sinyal bahwa kerja sama antariksa tetap berjalan meskipun hubungan AS-Rusia memburuk akibat konflik Ukraina.
- Kolaborasi ini kontras dengan ambisi eksplorasi bulan, di mana Rusia kini lebih condong ke China setelah rencana keterlibatan dalam program Artemis gagal.

Seorang astronot Amerika Serikat dan dua kosmonot Rusia berhasil tiba di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada Selasa (15/7) setelah meluncur dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan, menandai babak baru kerja sama antariksa di tengah ketegangan geopolitik yang masih membara.
Misi yang diangkut wahana Soyuz MS-26 milik Roscosmos ini membawa NASA astronaut Anil Menon, Pyotr Dubrov, dan Anna Kikina. Peluncuran berlangsung tepat pukul 19.47 waktu setempat, dan proses docking berjalan otomatis hanya dalam waktu tiga jam. Ketiganya akan menghabiskan delapan bulan di laboratorium orbital tersebut, bergabung dengan sembilan awak lain yang sudah berada di stasiun.
Yang menarik perhatian adalah kehadiran Administrator NASA Jared Isaacman di lokasi peluncuran. Ini merupakan kunjungan pertama seorang kepala NASA ke Baikonur dalam delapan tahun terakhir. Sebelum lepas landas, Isaacman bertemu dengan pimpinan Roscosmos Dmitry Bakanov dan Wakil Perdana Menteri Rusia Denis Manturov. Dalam pertemuan itu, Isaacman menyampaikan apresiasi atas kerja sama teknis yang telah berjalan, seraya menekankan bahwa "integrasi kerja selama beberapa bulan terakhir mencerminkan profesionalisme dan dedikasi semua pihak."
Kerja sama antariksa AS-Rusia memang sudah berlangsung lama sejak era Perang Dingin, namun hubungan itu sempat renggang setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Meski demikian, ISS tetap menjadi satu-satunya panggung diplomasi yang bertahan. Setiap negara secara bergantian mengirimkan awaknya menggunakan kendaraan milik masing-masing โ Amerika dengan Crew Dragon buatan SpaceX, dan Rusia dengan Soyuz. Model ini memastikan keberlangsungan operasional stasiun meskipun di darat hubungan kedua negara memburuk.
Namun, kerja sama itu tidak meluas ke proyek ambisius lainnya. Rencana keterlibatan Rusia dalam program Artemis โ misi NASA untuk mengembalikan manusia ke Bulan โ sudah lama kandas. Sebagai gantinya, Roscosmos semakin mendekat ke China. Di tengah sanksi Barat yang membatasi akses Rusia terhadap teknologi dan pasar energi, Moskow mulai mengembangkan proyek Bulan bersama Beijing. Langkah ini menandai pergeseran aliansi di sektor antariksa yang sebelumnya didominasi oleh AS dan Rusia.
Bagi Indonesia, dinamika ini membuka peluang sekaligus tantangan. Sebagai negara yang tengah membangun ekosistem antariksa โ dengan rencana peluncuran satelit dan pengembangan sumber daya manusia โ Indonesia bisa memanfaatkan celah kerja sama bilateral yang lebih longgar. Namun, ketidakpastian geopolitik juga bisa mempersulit akses terhadap teknologi dan pendanaan internasional. Ke depan, keputusan Indonesia untuk bergabung dalam program Artemis atau menjajaki kerja sama dengan China dan Rusia akan menjadi penentu arah industri antariksa nasional.
Misi Soyuz MS-26 ini sekali lagi membuktikan bahwa ISS masih menjadi simbol kerja sama lintas batas yang langka. Namun, dengan ambisi eksplorasi Bulan yang semakin konkret, pertanyaan besarnya adalah: akankah model kolaborasi seperti ini bisa bertahan di luar orbit rendah Bumi?



