Flu Burung H5 Masuk Selandia Baru: Skua Laut Positif, Warga Diminta Waspada
Baca dalam 60 detik
- Seekor burung skua laut ditemukan terinfeksi H5 di Pantai Petone, Wellington, menandai kasus pertama flu burung jenis tersebut di Selandia Baru.
- Menteri Biosecurity Andrew Hoggard menegaskan belum ada bukti penularan antarburung liar atau kematian massal, namun otoritas telah memvaksinasi populasi burung endemik yang terancam punah.
- Australia, tetangga Selandia Baru, mencatat 14 kasus H5 sejak Juni lalu, meningkatkan kewaspadaan di kawasan Pasifik termasuk Indonesia yang memiliki jalur migrasi unggas.

Seekor burung skua laut yang ditemukan di Pantai Petone, Wellington, dinyatakan positif terinfeksi virus H5, menjadikannya kasus pertama flu burung jenis itu di Selandia Baru. Otoritas setempat langsung mengimbau masyarakat untuk melaporkan jika menemukan tiga atau lebih unggas sakit secara bersamaan.
Menteri Biosecurity Andrew Hoggard mengonfirmasi bahwa burung migran tersebut merupakan kasus tunggal tanpa indikasi penularan antarburung liar atau kematian massal pada satwa liar. Meski demikian, temuan ini memicu kekhawatiran mengingat strain H5 telah menyebabkan penyakit parah dan angka kematian tinggi pada unggas domestik dan burung liar di berbagai belahan dunia.
Selandia Baru selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang relatif terlindung dari wabah H5 berkat isolasi geografisnya. Namun, kedatangan burung migran membuktikan bahwa virus tetap bisa menyusup. Negeri Kiwi itu kini mempercepat program vaksinasi untuk lima spesies burung paling terancam punah: kakapo, takahe, shore plover, black stilt, dan orange-fronted parakeet. Langkah ini diambil untuk melindungi populasi penangkaran yang rentan.
Australia, tetangga Selandia Baru, baru mencatat kasus pertama H5 pada Juni lalu setelah bertahun-tahun menjadi satu-satunya daratan utama yang bebas strain tersebut. Hingga kini, Australia telah melaporkan 14 kasus. Situasi di kedua negara menunjukkan bahwa penyebaran H5 melalui jalur migrasi burung sulit dihindari, meskipun kawasan tersebut memiliki sistem karantina ketat.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya surveilans flu burung di jalur migrasi unggas. Indonesia merupakan salah satu negara dengan kasus flu burung H5N1 tertinggi pada manusia dan unggas. Meskipun strain yang terdeteksi di Selandia Baru belum tentu sama dengan yang beredar di Asia, kedekatan geografis dan pola migrasi burung meningkatkan risiko masuknya varian baru. Otoritas kesehatan hewan di Indonesia perlu memperkuat pemantauan di titik-titik kedatangan burung migran, terutama di kawasan timur yang berbatasan dengan Australia.
Para ahli mengingatkan bahwa deteksi dini dan respons cepat adalah kunci untuk mencegah penyebaran luas. Selandia Baru telah membuktikan bahwa satu kasus pun bisa menjadi sinyal waspada. Pertanyaannya, apakah negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, sudah memiliki kesiapan yang memadai untuk menghadapi potensi lonjakan kasus flu burung di masa depan?



