JR East Siap Operasikan Kereta Hibrida Hidrogen Pertama Jepang pada 2027
Baca dalam 60 detik
- JR East akan mengoperasikan kereta hibrida hidrogen 'Hybari' di jalur Tsurumi dan Nambu mulai akhir tahun fiskal 2027, menjadi yang pertama di Jepang.
- Kereta ini menggunakan sel bahan bakar dan baterai, hanya mengeluarkan uap air, dengan jarak tempuh 70 km per pengisian hidrogen.
- Langkah ini sejalan dengan target dekarbonisasi Jepang dan membuka peluang adopsi teknologi serupa di Asia, termasuk Indonesia yang memiliki potensi hidrogen hijau.

Jepang akan segera memiliki kereta hibrida bertenaga hidrogen pertama yang beroperasi secara komersial. East Japan Railway Company (JR East) mengumumkan bahwa kereta bernama 'Hybari' akan mulai melayani penumpang pada akhir tahun fiskal 2027 di dua jalur di Prefektur Kanagawa, dekat Tokyo. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam upaya negeri sakura mengurangi emisi karbon dari sektor transportasi.
Berbeda dengan kereta listrik konvensional yang mengambil daya dari kabel overhead, Hybari mengandalkan sel bahan bakar hidrogen dan baterai penyimpanan. Listrik dihasilkan dari reaksi kimia antara hidrogen dan oksigen, dengan satu-satunya emisi berupa uap air. Menurut JR East, kereta ini mampu menempuh jarak sekitar 70 kilometer dalam sekali pengisian penuh hidrogen. Pengujian performa dan stabilitas operasional telah berlangsung sejak 2022.
Kereta tersebut akan dioperasikan di Jalur Tsurumi dan Nambu, dua jalur komuter yang melayani kawasan industri dan pemukiman di selatan Tokyo. JR East belum merinci jadwal pasti, frekuensi perjalanan, atau investasi yang dikeluarkan untuk proyek percontohan ini. Namun, perusahaan menegaskan bahwa Hybari adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan dan memangkas emisi CO2 secara signifikan.
Bagi Indonesia, pengembangan kereta hidrogen di Jepang membuka pelajaran berharga. Meskipun Indonesia belum memiliki infrastruktur hidrogen untuk transportasi, potensi hidrogen hijau dari sumber daya alam seperti panas bumi dan air cukup besar. Beberapa pihak menilai bahwa adopsi teknologi serupa di masa depan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil di sektor perkeretaapian, terutama di jalur-jalur non-elektrifikasi di Pulau Jawa dan Sumatera. Namun, tantangan utama tetap pada biaya produksi hidrogen yang masih tinggi dan kebutuhan investasi infrastruktur pengisian bahan bakar.
Keberhasilan Hybari akan menjadi tolok ukur bagi negara-negara Asia lainnya yang tengah menjajaki moda transportasi rendah karbon. Jepang sendiri menargetkan netralitas karbon pada 2050, dan sektor transportasi menyumbang sekitar 20 persen dari total emisi nasional. Jika uji coba ini berjalan mulus, bukan tidak mungkin JR East akan memperluas penggunaan kereta hidrogen ke jalur-jalur lain di Jepang, sekaligus membuka peluang ekspor teknologi ke negara-negara tetangga.



