Dessert Retro Jepang Viral, Pesanan Membludak hingga Tiga Minggu
Baca dalam 60 detik
- Toko es krim di Ise, Jepang, meluncurkan dua dessert beku bernuansa retro yang viral di media sosial, menyebabkan waktu tunggu pesanan mencapai tiga minggu.
- Produk 'Kurisotsu' dan 'Omurin' terinspirasi dari menu klasik era Showa, menggunakan bahan lokal, dan dijual dalam set empat dengan harga sekitar Rp160.000-Rp170.000.
- Fenomena ini menunjukkan tren nostalgia yang kuat di Jepang, berpotensi menginspirasi pelaku usaha kuliner Indonesia untuk mengadopsi konsep serupa.

Dua kreasi dessert beku bergaya retro dari sebuah toko es krim di Ise, Prefektur Mie, Jepang, mendadak viral di media sosial dan membanjiri pesanan online hingga waktu tunggu mencapai tiga minggu. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan daya tarik nostalgia, tetapi juga menjadi bukti bagaimana inovasi produk berbasis sejarah lokal mampu menembus pasar digital secara masif.
Reito Purin Soft, gerai yang berlokasi di depan kuil Ise Jingu, merilis dua varian baru: "Kurisotsu" yang meniru tampilan es krim soda klasik, dan "Omurin" yang menyajikan es krim berbentuk omelet-rice. Keduanya dikembangkan selama setahun dengan konsep "retro cute", menyasar gelombang kerinduan terhadap era Showa (1926-1989). Produk ini hanya dijual melalui toko resmi online, dengan harga 1.680 yen (sekitar Rp170.000) untuk Kurisotsu dan 1.800 yen (sekitar Rp183.000) untuk Omurin per set empat buah.
Kesuksesan ini bukan yang pertama bagi Reito Purin Soft. Pada 2020, mereka meluncurkan produk andalan "Reito purin soft"โpuding beku dalam botol yang terbuat dari susu dan telur lokal, diberi topping es krim soft serveโyang terjual 25.000 unit dalam setahun selama pandemi. Kini, dengan memanfaatkan tren retro yang tengah naik daun, mereka berharap menciptakan kembali fenomena serupa. Shimpei Yamamura, perwakilan toko, menyatakan bahwa mereka "mengemas suasana era Showa ke dalam satu kantong" dan berharap masyarakat mau mencicipinya.
Fenomena ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Di tengah maraknya tren kuliner kekinian, konsep nostalgia justru menjadi celah pasar yang potensial. Pelaku usaha kuliner Tanah Air dapat belajar dari strategi Reito Purin Soft yang memadukan unsur sejarah lokal (era Showa) dengan kemasan modern dan penjualan digital. Di Indonesia, misalnya, jajanan pasar tradisional atau minuman es campur tempo dulu bisa dikemas ulang dengan sentuhan kekinian tanpa kehilangan identitas aslinya. Selain itu, penggunaan bahan lokal dan cerita di balik produk menjadi nilai jual yang kuat di era konsumen yang semakin sadar akan keaslian.
Meski demikian, tantangan utama adalah menjaga konsistensi kualitas dan skala produksi. Reito Purin Soft saat ini hanya melayani pesanan online, namun berencana memperluas distribusi ke toko fisik dan acara khusus. Langkah ini menunjukkan pentingnya membangun infrastruktur logistik yang memadai untuk memenuhi lonjakan permintaan. Bagi pengusaha Indonesia, kolaborasi dengan platform e-commerce dan layanan kurir lokal bisa menjadi solusi awal.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah tren retro ini akan bertahan, tetapi bagaimana inovasi serupa dapat diadaptasi di pasar Indonesia yang kaya akan warisan kuliner. Akankah muncul "es krim jamu" atau "puding klepon" yang viral? Waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: nostalgia, jika dikemas dengan tepat, bisa menjadi resep sukses di era digital.



