Santri Gayeng Nusantara Sulap 57 Hektare Lahan Tidur Jadi Lumbung Pangan di Banjarnegara
Baca dalam 60 detik
- Santri Gayeng Nusantara bersama petani dan Indonesia Power mengelola 57 hektare lahan tidur di Banjarnegara menjadi kawasan pertanian terintegrasi.
- Proyek ini tidak hanya menanam jagung, tetapi juga mengembangkan hortikultura, peternakan, dan perikanan dengan konsep ramah lingkungan.
- Ke depan, kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi Agro Eduwisata Religi, memadukan pertanian, edukasi, dan kegiatan keagamaan.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Santri Gayeng Nusantara (SGN) yang berhasil mengubah lahan tidur seluas 57 hektare di Desa Bandingan, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, menjadi kawasan pertanian produktif. Langkah ini dinilai sebagai bukti nyata bahwa pesantren mampu memperluas perannya dari sekadar lembaga pendidikan keagamaan menjadi motor pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Lahan yang sebelumnya tidak produktif itu kini ditanami jagung, padi, cabai, kembang kol, dan terong. Tak hanya sektor tanaman pangan, kawasan ini juga mengembangkan hortikultura, perikanan, dan peternakan. Kolaborasi antara SGN, kelompok tani setempat, dan PT Indonesia Power ini diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru serta meningkatkan kesejahteraan warga sekitar. "Inilah bentuk pemberdayaan pesantren. Bukan hanya memberikan pendidikan keagamaan saja, tetapi juga pergerakan pertanian dan ekonomi," ujar Taj Yasin saat meninjau lokasi, Selasa (14/7).
Pemanfaatan lahan tidur ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui optimalisasi lahan produktif dan pemberdayaan masyarakat. Jawa Tengah sendiri merupakan salah satu lumbung jagung nasional. Menurut Taj Yasin, penguatan produksi jagung menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. "Kalau ketahanan pangan kita siap, ekonomi enggak bisa digoyang, enggak bisa diintervensi oleh negara manapun," tegasnya.
Ketua SGN Pusat, Muhammad Chamzah Hasan, mengungkapkan bahwa gagasan pemberdayaan santri melalui sektor pertanian berawal dari arahan Wagub Taj Yasin. SGN bertindak sebagai fasilitator yang menghubungkan petani dengan sumber daya dan pasar. "Santri Gayeng berada di depan sebagai fasilitator, tetapi yang merasakan manfaatnya adalah masyarakat, terutama kelompok tani. Dari masyarakat dan kembali untuk masyarakat," jelasnya. Lahan akan dimanfaatkan secara bertahap bersama kelompok tani dan Indonesia Power.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng, Himawan Wahyu, menambahkan bahwa kawasan ini dikembangkan dengan konsep pertanian terintegrasi. Selain jagung, lahan juga ditanami padi, cabai, kembang kol, dan terong. Dari sektor kehutanan, ditanam pohon multipurpose seperti durian dan alpukat. Sektor peternakan mengembangkan budidaya kambing dengan sistem silvopastura, sehingga limbah ternak dapat diolah menjadi pupuk organik. Model ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dengan mempertahankan pepohonan besar.
Ke depan, kawasan ini direncanakan menjadi Agro Eduwisata Religi yang memadukan pertanian, peternakan, perkebunan, edukasi, dan kegiatan keagamaan, termasuk fasilitas manasik haji. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tengah menyiapkan dukungan pengembangan jagung seluas 3.200 hektare pada 2026 sebagai bagian dari program swasembada jagung, termasuk di Kabupaten Banjarnegara. Apakah model kolaborasi pesantren dan BUMN ini bisa menjadi cetak biru bagi daerah lain dalam mengoptimalkan lahan tidur?



