Pop Art Dunia dan Asia Tenggara Bersatu di National Gallery Singapore: Pameran Terbesar se-Asia Tenggara
Baca dalam 60 detik
- National Gallery Singapore akan menggelar pameran pop art terbesar di Asia Tenggara, menampilkan lebih dari 200 karya dari 100 seniman global dan regional.
- Pameran ini menjadi kolaborasi perdana antara National Gallery Singapore dan Yayasan Solomon R. Guggenheim, membuka akses ke koleksi ikonik seperti karya Andy Warhol dan Barbara Kruger.
- Bagi pengunjung Indonesia, pameran ini menawarkan kesempatan langka melihat langsung karya seniman kontemporer Indonesia FX Harsono dalam konteks pop art global.

National Gallery Singapore mengumumkan akan menjadi tuan rumah pameran pop art terbesar yang pernah digelar di Asia Tenggara, menampilkan lebih dari 200 karya dari 100 seniman dunia dan regional. Bertajuk "Pop After Pop: Art Around Us", pameran ini dijadwalkan berlangsung mulai 11 Desember 2026 hingga 4 April 2027, menyuguhkan perjalanan visual dari akar pop art hingga pengaruhnya di kawasan.
Pameran ini menghadirkan nama-nama legendaris seperti Roy Lichtenstein, Andy Warhol, dan Barbara Kruger, bersama seniman Asia Tenggara seperti Ming Wong (Singapura) dan FX Harsono (Indonesia). Karya ikonik seperti "Untitled (Money money money)" milik Kruger dan "Preparedness" Lichtenstein akan menjadi daya tarik utama. Bagi publik Indonesia, kehadiran FX Harsono—seniman kontemporer yang kerap mengangkat isu sosial-politik—memberi dimensi lokal dalam narasi pop art global.
Pop art, yang lahir di Amerika dan Inggris pada 1950-an, dikenal karena penggunaan citra budaya populer dan teknik reproduksi massal. Menurut kurator pameran, gerakan ini tidak hanya mengubah cara kita memandang seni, tetapi juga membuka ruang bagi seniman Asia Tenggara untuk mengeksplorasi identitas dan konsumerisme lokal. FX Harsono, misalnya, kerap menyelipkan kritik sosial dalam karya-karyanya yang terinspirasi budaya pop.
Pameran ini juga menandai babak baru kerja sama antara National Gallery Singapore dan Yayasan Solomon R. Guggenheim, yang mengelola museum-museum ternama di New York dan Venesia. Kolaborasi ini memungkinkan pertukaran koleksi dan pengetahuan, memperkuat posisi Singapura sebagai hub seni di Asia. Bagi Indonesia, kerja sama ini bisa membuka peluang bagi seniman lokal untuk tampil di panggung internasional.
"Pop After Pop bukan sekadar pameran, melainkan dialog antara masa lalu dan masa kini, antara Barat dan Timur," ujar seorang juru bicara National Gallery Singapore dalam pernyataan resmi.
Bagi pengunjung dari Indonesia, pameran ini menawarkan akses mudah dengan penerbangan singkat ke Singapura. Harga tiket yang relatif terjangkau—S$15 untuk warga negara ASEAN yang merupakan penduduk tetap Singapura—membuatnya layak dipertimbangkan sebagai destinasi liburan akhir tahun. Apakah pameran ini akan memicu gelombang baru apresiasi pop art di Indonesia? Hanya waktu yang akan membuktikan.



