Bali Disiapkan Jadi Pusat Finansial Global, Tiru Model Dubai
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah menargetkan Bali sebagai pusat keuangan internasional dengan mengadopsi model Dubai International Financial Centre.
- Insentif pajak korporasi 0% selama 40 tahun dan ekosistem profesional global menjadi daya tarik utama PFII.
- Danantara dan BP BUMN telah menggelar rapat strategis untuk mematangkan investasi dan infrastruktur PFII.

Pemerintah Indonesia mempercepat realisasi Bali sebagai Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), sebuah kawasan keuangan global yang digadang-gadang akan menjadi magnet investasi asing dan memperkuat posisi Indonesia di peta ekonomi dunia. Langkah ini meniru kesuksesan Dubai International Financial Centre (DIFC) yang berhasil mentransformasi Dubai menjadi salah satu pusat keuangan terkemuka di kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan.
Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) secara resmi menyebut DIFC sebagai tolok ukur dalam pengembangan PFII. Dalam unggahan di akun Instagram resmi @bumn_id, BP BUMN mengungkapkan bahwa Dubai menerapkan insentif pajak korporasi hingga 0% selama 40 tahun, mempekerjakan lebih dari 50.000 profesional, dan dijuluki sebagai "Wall Street of MEASA" (Middle East, Africa, and South Asia). Model ini diyakini mampu menarik investasi global, memperdalam pasar keuangan domestik, serta memperkuat daya saing Indonesia di kancah internasional.
Langkah konkret telah dimulai. Pada 14 Juli 2026, Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menggelar rapat dengan Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, serta jajaran direksi BPI Danantara. Fokus pembahasan meliputi kesiapan strategi investasi, pembangunan ekosistem keuangan berstandar global, dan peran Danantara dalam pengembangan aset, infrastruktur, serta layanan PFII.
Bagi Indonesia, proyek ini bukan sekadar ambisi. PFII diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, membuka lapangan kerja bagi tenaga profesional lokal dan asing, serta mendorong transfer pengetahuan dan teknologi keuangan. Dengan posisi geografis Bali yang strategis di antara dua benua, kawasan ini berpotensi menjadi hub keuangan yang melayani pasar Asia-Pasifik.
Namun, tantangan tidak sedikit. Persaingan dengan pusat keuangan lain seperti Singapura, Hong Kong, dan Dubai sendiri membutuhkan keunggulan kompetitif yang jelas. Regulasi yang ramah investasi, infrastruktur digital yang mumpuni, serta stabilitas politik dan hukum menjadi prasyarat mutlak. Pemerintah harus memastikan bahwa insentif fiskal tidak hanya menarik investor, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang bagi perekonomian nasional.
Ke depan, pertanyaan krusial yang mengemuka adalah: mampukah PFII bersaing dengan pusat keuangan mapan di kawasan? Atau akankah proyek ini hanya menjadi wacana ambisius tanpa implementasi nyata? Jawabannya akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, koordinasi antarlembaga, dan kemampuan menarik investasi strategis dalam waktu dekat.



