Kebakaran Pub di Bangkok: Aturan Longgar, 30 Tewas Terjebak Asap Beracun
Baca dalam 60 detik
- Ledakan api dan asap beracun dari material dekorasi yang mudah terbakar menjadi penyebab utama tingginya korban jiwa dalam kebakaran pub di Bangkok.
- Insiden ini kembali menyoroti lemahnya penegakan regulasi keselamatan kebakaran di industri hiburan Thailand, termasuk penggunaan bahan akustik non-tahan api.
- Kasus serupa di Indonesia, seperti kebakaran diskotek di Surabaya, menunjukkan perlunya audit keselamatan ketat dan larangan material mudah terbakar di tempat hiburan.

Kebakaran hebat melanda sebuah pub di Bangkok utara pada Minggu tengah malam, menewaskan sedikitnya 30 orang dan melukai 75 lainnya, 24 di antaranya kritis. Peristiwa yang terekam dalam video amatir dan diverifikasi Reuters ini memperlihatkan kobaran api menyembur deras dari pintu masuk hanya beberapa detik setelah asap tebal membubung.
Menurut keterangan otoritas setempat, api diduga dipicu korsleting listrik pada pendingin udara di langit-langit. Meski petugas pemadam tiba dalam hitungan menit, kombinasi material dekorasi yang sangat mudah terbakar dan kemungkinan terhalangnya pintu darurat membuat banyak pengunjung tak bisa menyelamatkan diri. Saksi mata, Usa Tadsree (41), yang sedang merokok di luar, mengaku melihat lampu berkedip sebelum asap muncul. “Saya ingin masuk kembali menjemput teman, tapi panasnya begitu hebat, saya terpaksa lari,” ujarnya.
Penyelidikan awal mengungkap bahwa langit-langit pub dilapisi material akustik berbusa dan hiasan plastik—termasuk pohon dan bunga artifisial—yang dirancang untuk menciptakan kanopi hijau. Ketika terbakar, material itu menghasilkan panas ekstrem dan asap hitam pekat mengandung karbon monoksida serta sianida. Busakorn Saensookh, Ketua Komite Teknik Proteksi Kebakaran di Engineering Institute of Thailand, yang memeriksa lokasi, menyatakan, “Keparahan api ini didorong oleh beban bahan bakar yang sangat besar. Plastik padat yang terbakar menghasilkan semburan api karena akumulasi panas yang luar biasa.” Panas tersebut kemudian menjalar ke bawah, menghanguskan kursi berlapis kain.
Amorn Pimanmas, Presiden Asosiasi Insinyur Struktur Thailand, menambahkan bahwa korban meninggal terutama akibat menghirup asap beracun sebelum sempat terbakar. “Beberapa jenazah tidak menunjukkan tanda-tanda terbakar,” katanya. Polisi Thailand tengah menyelidiki apakah pintu darurat terhadap akses, mengingat pub tersebut—yang berlokasi di persimpangan ramai dekat stasiun kereta dan pusat perbelanjaan—baru menjalani inspeksi keselamatan pada April lalu. Pemilik pub yang dirawat di rumah sakit belum dapat dimintai keterangan.
Kebakaran ini mengingatkan pada tragedi serupa di Indonesia, seperti kebakaran diskotek di Surabaya pada 2015 yang menewaskan empat orang akibat tidak adanya sprinkler dan pintu darurat yang memadai. Di Indonesia, regulasi keselamatan kebakaran untuk tempat hiburan malam sebenarnya sudah diatur dalam Peraturan Menteri PUPR dan standar nasional, namun implementasi di lapangan kerap lemah. Banyak tempat hiburan menggunakan material dekorasi murah yang mudah terbakar tanpa sertifikasi tahan api, serta mengabaikan kapasitas pintu keluar darurat. Kasus Bangkok menjadi pengingat bahwa kelalaian serupa bisa berakibat fatal di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bandung, atau Denpasar yang memiliki ribuan klub malam dan pub.
Ke depan, pemerintah Thailand diperkirakan akan memperketat pengawasan dan mungkin merevisi standar material bangunan untuk tempat hiburan. Namun, pertanyaan mendasar tetap mengemuka: akankah regulasi yang lebih ketat benar-benar ditegakkan, atau hanya menjadi dokumen tanpa dampak? Bagi Indonesia, tragedi ini seharusnya mendorong audit keselamatan menyeluruh dan larangan penggunaan material dekorasi berbasis plastik dan busa non-tahan api di tempat-tempat serupa. Tanpa langkah konkret, ancaman kebakaran massal akan terus menghantui industri hiburan di kawasan Asia Tenggara.



