Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Brent Tembus US$85,72: Ancaman Baru bagi Anggaran Energi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent melonjak 2,9% dalam dua hari ke US$85,72 per barel dipicu blokade laut AS terhadap Iran dan penutupan Selat Hormuz.
- Selat Hormuz, yang dilalui seperlima minyak dan LNG global, terancam lumpuh total; risiko kini meluas ke kemungkinan serangan langsung pada infrastruktur energi Teluk.
- Bila konflik berlanjut, Brent berpotensi mendekati US$100; bagi Indonesia, kenaikan ini bisa memperlebar defisit APBN dan menekan subsidi energi.

Harga minyak mentah dunia kembali mencatat rekor baru di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang tak kunjung mereda. Pada perdagangan Rabu (15/7/2026), harga minyak Brent menembus level US$85,72 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertengger di US$80,12 per barel. Lonjakan ini bukan sekadar fluktuasi harian—dalam dua pekan terakhir, Brent telah menguat hampir 13%, menandakan kepanikan pasar yang semakin dalam.
Pemicu utama kenaikan ini adalah keputusan Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan blokade laut total terhadap seluruh pelabuhan Iran. Langkah tersebut segera dibalas Teheran dengan serangan terhadap sejumlah target militer dan infrastruktur AS di Timur Tengah. Kekhawatiran terbesar pasar kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima minyak dunia dan gas alam cair (LNG) melewati selat ini setiap hari. Kini, Iran mengklaim telah menutup jalur tersebut, sementara militer AS terus melancarkan serangan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu kapal komersial.
Yang membuat situasi semakin genting, perhatian pasar mulai bergeser dari sekadar gangguan logistik ke ancaman langsung terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyebut target energi Iran masih menjadi opsi berikutnya. Pernyataan itu memicu spekulasi bahwa serangan terhadap kilang, terminal ekspor, atau ladang minyak dapat terjadi sewaktu-waktu. Iran pun meningkatkan responsnya dengan mengklaim serangan drone ke pangkalan militer AS di Yordania, serta menyerang gudang senjata di Bahrain dan Kuwait—meski klaim ini belum diverifikasi secara independen.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak ini memiliki implikasi langsung dan serius. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, setiap kenaikan US$1 per barel diperkirakan menambah beban subsidi energi sekitar Rp2 triliun per tahun. Dengan kenaikan Brent hampir US$10 dalam dua pekan, potensi tambahan defisit APBN bisa mencapai Rp20 triliun lebih—tepat di saat pemerintah tengah berupaya menjaga stabilitas fiskal. Lebih jauh, jika harga bertahan di atas US$85, tekanan pada anggaran subsidi BBM dan listrik akan semakin besar, memaksa pemerintah untuk menyesuaikan harga atau memperluas kompensasi.
Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai peluang harga minyak kembali mendekati US$100 per barel masih terbuka lebar apabila konflik terus meningkat dan mulai merusak fasilitas energi di kawasan Teluk. "Setiap serangan terhadap kilang atau terminal ekspor akan langsung memicu lonjakan harga yang lebih tajam," ujarnya. Sebaliknya, jika jalur diplomasi kembali terbuka dan Selat Hormuz dapat dinormalisasi, Waterer memperkirakan Brent akan bertahan di kisaran US$75-80 per barel. Namun, dengan retorika kedua negara yang masih keras, prospek jangka pendek tampak suram.
Pertanyaan kini beralih ke seberapa cepat konflik dapat diredam. Jika AS dan Iran kembali ke meja perundingan, tekanan harga bisa mereda. Namun, jika serangan balasan berlanjut dan infrastruktur energi ikut menjadi sasaran, dunia—termasuk Indonesia—harus bersiap menghadapi era minyak di atas US$100 per barel. Bagi pengelola fiskal di Tanah Air, ini bukan lagi skenario terburuk, melainkan kenyataan yang mungkin harus diantisipasi mulai hari ini.



