Booming Bisnis Pelatihan AI di India: Antara Peluang Karier dan Risiko Kualitas
Baca dalam 60 detik
- Pendaftaran program AI di penyedia pelatihan India melonjak hingga dua kali lipat dalam setahun, didorong kekhawatiran pekerja akan ketertinggalan.
- Laporan NASSCOM-Deloitte menunjukkan 60% pekerja India yakin keterampilan AI dapat meningkatkan prospek karier, namun pengamat mengingatkan sertifikat saja tak cukup.
- Maraknya kursus AI memicu kekhawatiran akan regulasi dan kualitas, dengan seruan agar pemerintah melindungi peserta dari penyedia nakal.

Bisnis pelatihan kecerdasan buatan (AI) di India tumbuh pesat seiring meningkatnya jumlah pekerja dan pencari kerja yang rela merogoh kocek demi mengikuti kursus singkat, bootcamp, hingga program sertifikasi. Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan respons terhadap kekhawatiran mendalam: mereka yang tidak menguasai AI berisiko tertinggal dan kehilangan relevansi di pasar tenaga kerja.
Shantanu Rooj, pendiri dan CEO TeamLease EdTech, menuturkan bahwa pertumbuhan terbesar justru berasal dari pekerja yang sudah memiliki pekerjaan. "Mereka sadar bahwa tanpa reskilling dan upskilling, posisi mereka bisa menjadi usang," ujarnya. Perusahaannya mencatat lonjakan pendaftaran program AI hingga hampir dua kali lipat dalam setahun terakhir. Hal senada diungkapkan Myleeta Aga Williams, CEO internasional upGrad, yang menyebut AI sebagai kategori dengan pertumbuhan tercepat di platformnya.
Namun, di balik antusiasme tersebut, muncul pertanyaan serius tentang efektivitas dan kualitas pelatihan. Banyak penyedia baru bermunculan, menawarkan berbagai program mulai dari konten gratis di YouTube hingga kursus berbayar dengan sertifikat. Rooj mengingatkan perlunya regulasi agar peserta tidak tertipu oleh oknum tidak bertanggung jawab. "Penting untuk memastikan ada aturan sehingga orang tidak tertipu oleh pemain nakal," katanya.
Para perekrut juga memberikan catatan penting. Anand V, kepala informasi untuk Asia-Pasifik di Randstad, menekankan bahwa permintaan akan talenta yang paham AI memang tinggi, tetapi menyelesaikan kursus saja tidak otomatis membuka pintu promosi atau kenaikan gaji. "Yang dihargai adalah mereka yang terus belajar, beradaptasi, dan mampu menerjemahkan pengetahuan AI menjadi hasil nyata," ujarnya. Dengan kata lain, sertifikat hanyalah pintu masuk; kemampuan aplikasi dan inovasi yang menjadi pembeda.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, di mana adopsi AI di sektor korporasi juga meningkat. Pekerja Indonesia menghadapi tekanan serupa untuk meningkatkan keterampilan digital, namun ketersediaan pelatihan berkualitas dan regulasi yang melindungi konsumen masih menjadi tantangan. Pengalaman India bisa menjadi pelajaran: ledakan kursus AI harus diimbangi dengan standar mutu dan pengawasan agar tidak menjadi gelembung yang mengecewakan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka bukan hanya apakah pelatihan AI mampu menjawab kebutuhan industri, tetapi juga bagaimana pemerintah dan sektor swasta dapat berkolaborasi menciptakan ekosistem pembelajaran yang kredibel. Tanpa itu, risiko pekerja hanya membuang waktu dan uang untuk sertifikat yang tak diakui pasar menjadi semakin nyata.



