Visi Masayoshi Son: Satu Miliar Robot Humanoid Ber-AI Akan Ubah Wajah Dunia Kerja pada 2040
Baca dalam 60 detik
- SoftBank Group menargetkan satu miliar robot humanoid bertenaga AI beroperasi pada 2040, menggeser peran manusia sebagai pusat peradaban.
- CEO Masayoshi Son memproyeksikan industri AI akan menyumbang 20% PDB global atau setara 7 kuadriliun yen, dengan kebutuhan listrik data center mencapai 3 terawatt.
- Visi ini menuntut investasi infrastruktur AI senilai 5 triliun dolar AS per tahun, membuka peluang sekaligus tantangan bagi negara berkembang seperti Indonesia.

SoftBank Group Corp. melalui CEO-nya, Masayoshi Son, menegaskan ambisinya untuk menciptakan satu miliar robot humanoid yang dilengkapi kecerdasan buatan (AI) pada 2040. Target ini disebut akan mengubah secara fundamental lanskap ketenagakerjaan global, bahkan mengakhiri era manusia sebagai makhluk hidup tertinggi di bumi.
Dalam pidatonya di konferensi tahunan perusahaan, Son menyatakan bahwa pada tahun yang sama akan ada 100 triliun agen AI yang bekerja secara otonom tanpa instruksi manusia. Agen-agen ini, menurut Son, mampu mereplikasi diri dan mendorong evolusi agen AI lainnya, menandai pergeseran dari masyarakat yang berpusat pada manusia menuju masyarakat yang berpusat pada agen. "Akan menjadi keharusan bagi manusia untuk berevolusi bersama agen AI, bukan menolaknya," ujar Son.
Son memproyeksikan bahwa industri terkait AI akan menyumbang sekitar 20 persen dari produk domestik bruto (PDB) global pada 2040, setara dengan 7 kuadriliun yen atau sekitar 43 triliun dolar AS. Untuk mendukung ekosistem ini, kebutuhan listrik untuk pusat data AI diperkirakan mencapai 3 terawatt, atau 1,8 kali lipat konsumsi listrik global saat ini. Setelah 2040, tambahan daya sekitar 1 terawatt per tahun akan diperlukan seiring agen AI menjadi penggerak utama ekonomi.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Son menggarisbawahi perlunya investasi infrastruktur AI senilai 5 triliun dolar AS setiap tahun. SoftBank, yang dalam beberapa tahun terakhir memfokuskan investasinya pada bisnis terkait AI seperti semikonduktor, robotika, dan pusat data, dipandang sebagai salah satu pemain kunci dalam perlombaan AI global.
Bagi Indonesia, proyeksi ini membawa implikasi ganda. Di satu sisi, pertumbuhan industri AI dapat membuka peluang investasi dan transfer teknologi, terutama di bidang manufaktur robotika dan pengembangan pusat data. Namun, di sisi lain, kebutuhan energi yang sangat besar menuntut kesiapan infrastruktur listrik nasional. Indonesia yang tengah menggenjot energi baru terbarukan (EBT) bisa menjadi pemasok energi hijau bagi pusat data AI, mengingat potensi panas bumi dan surya yang melimpah. Regulasi dan kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor krusial agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar, melainkan ikut serta dalam rantai nilai AI global.
Pertanyaan yang mengemuka: mampukah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk melompat ke era AI, atau justru tertinggal karena kesenjangan infrastruktur dan sumber daya? Jawabannya akan bergantung pada kebijakan yang diambil dalam satu dekade ke depan.



