Menteri Pertahanan Jerman Desak Disiplin Anggaran Proyek Satelit Militer Rp170 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Proyek SATCOMBw4 senilai 10 miliar euro ditargetkan kontrak pada akhir 2026, dengan 200 satelit untuk komunikasi militer mandiri.
- Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius memperingatkan keterlambatan tidak bisa ditoleransi di tengah meningkatnya ancaman keamanan luar angkasa.
- Konsorsium OHB, Rheinmetall, dan Airbus dikhawatirkan membatasi persaingan harga, sementara Jerman mengalokasikan 35 miliar euro untuk keamanan luar angkasa hingga 2030.

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menegaskan bahwa proyek satelit militer senilai 10 miliar euro (sekitar Rp170 triliun) tidak boleh mengalami penundaan di tengah eskalasi ancaman keamanan global. Dalam kunjungannya ke pabrik satelit OHB di Bremen pada Selasa (14/7), ia mendesak kepatuhan ketat terhadap jadwal dan anggaran proyek bernama SATCOMBw4 yang dirancang untuk memberikan kemampuan komunikasi luar angkasa yang berdaulat bagi Bundeswehr.
Proyek ini dijadwalkan memasuki tahap kontrak pada akhir 2026 dan akan melibatkan sekitar 200 satelit, dengan gelombang awal 40 unit yang ditargetkan beroperasi mulai 2029. Sistem ini diharapkan meniru fungsi jaringan Starlink milik SpaceX, namun dikelola sepenuhnya oleh militer Jerman untuk keperluan pertahanan. Pistorius menekankan bahwa kemampuan tersebut krusial untuk peringatan dini, pengintaian, deteksi, dan komunikasi di luar angkasa.
โBundeswehr membutuhkan kemampuan ini,โ ujar Pistorius, seraya menambahkan bahwa sistem tersebut akan memungkinkan komando dan kendali global secara otonom serta mendukung komitmen Jerman terhadap NATO. Ia juga memperingatkan bahwa ancaman terhadap satelit sudah menjadi kenyataan, dengan banyak negara yang gencar mengembangkan kemampuan ofensif di luar angkasa.
Proyek ini melibatkan konsorsium yang terdiri dari OHB, Rheinmetall, dan menurut sumber pemerintah serta industri, Airbus Defence. Namun, struktur konsorsium ini menimbulkan kekhawatiran akan terbatasnya persaingan harga. Pistorius tidak secara langsung menanggapi isu tersebut, tetapi menekankan pentingnya efisiensi anggaran di tengah tekanan fiskal.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat meningkatnya ketergantungan pada teknologi satelit untuk pertahanan dan komunikasi. Indonesia sendiri tengah mengembangkan sistem satelit sendiri, seperti Satria-1, meskipun untuk keperluan sipil. Langkah Jerman menunjukkan bahwa negara maju semakin memprioritaskan kedaulatan ruang angkasa militer, sebuah tren yang patut dicermati oleh negara berkembang dalam merumuskan kebijakan keamanan siber dan luar angkasa.
Pistorius mengungkapkan bahwa Jerman berencana menginvestasikan total 35 miliar euro untuk keamanan luar angkasa hingga 2030, menandakan komitmen jangka panjang yang serius. Pertanyaan yang muncul adalah apakah proyek ambisius ini dapat berjalan sesuai jadwal tanpa membebani anggaran negara, terutama di tengah tekanan ekonomi dan politik domestik.



