Konflik AS-Iran Memanas: Penutupan Selat Hormuz Mengancam Pasokan Energi Global
Baca dalam 60 detik
- Iran menutup Selat Hormuz setelah menyerang kapal yang dianggap melanggar rute, memicu serangan balasan AS di enam basis militer Iran.
- Serangan ini mendorong harga minyak Brent ke level tertinggi dalam sebulan, meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
- Negosiasi damai yang rapuh terancam gagal total, sementara Indonesia berpotensi mengalami lonjakan harga BBM dan inflasi impor.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai titik didih baru setelah Teheran secara sepihak menutup Selat Hormuz—jalur transit seperlima konsumsi minyak dunia—dan Washington membalas dengan gelombang serangan udara ke enam lokasi militer Iran. Eskalasi ini tidak hanya mengguncang pasar energi global, tetapi juga mengubur harapan negosiasi damai yang baru dirintis.
Iran mengumumkan penutupan selat pada Minggu (12/7) setelah sebuah kapal yang dianggap melanggar rute yang ditentukan terkena serangan. Menurut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), kapal tersebut mematikan sistem navigasi dan membahayakan keamanan maritim. Oman kemudian mengonfirmasi bahwa sebuah kapal berbendera Siprus yang membawa 24 awak terkena serangan di lepas pantai timurnya. AS langsung merespons dengan serangan udara yang menargetkan fasilitas militer Iran di Bushehr, Chah Bahar, Jask, Konarak, Abu Musa, dan Bandar Abbas selama tiga malam berturut-turut.
Dalam operasi lima jam pada Selasa, militer AS mengerahkan pesawat tempur, kapal angkatan laut, serta drone serang udara dan laut. Mereka mengklaim berhasil menghancurkan satu kapal selam, fasilitas perbaikan kapal, sistem pertahanan udara, radar pesisir, dan infrastruktur rudal. Di sisi lain, IRGC menyerang gudang senjata, pusat komunikasi satelit, dan gedung tempat tinggal personel AS di Bahrain. Yordania melaporkan menembak jatuh empat rudal Iran, sementara Uni Emirat Arab menyatakan dua kapal mereka terkena rudal Iran, menewaskan satu awak dan melukai delapan lainnya.
Bagi Indonesia, konflik ini membawa risiko langsung. Sebagai importir minyak mentah, setiap kenaikan harga minyak global akan membebani anggaran subsidi BBM dan berpotensi memicu inflasi. Kementerian Keuangan sebelumnya telah mengantisipasi harga minyak di kisaran US$80 per barel dalam asumsi APBN 2026, namun lonjakan di atas level tersebut dapat memaksa penyesuaian harga BBM bersubsidi atau pelebaran defisit. Selain itu, gangguan rantai pasok melalui Selat Hormuz juga dapat menghambat impor bahan baku industri dan komoditas lain yang bergantung pada jalur tersebut.
Diplomasi yang sempat diharapkan meredakan ketegangan kini berada di ujung tanduk. Mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan pada 8 Juli bahwa kesepakatan damai sementara dengan Iran telah berakhir, dan ia ragu kesepakatan baru akan bertahan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut gencatan senjata sedang dalam krisis dan Iran akan mengabaikan kewajibannya jika Washington melakukan hal yang sama. Meski demikian, kedua pihak masih membuka pintu dialog: Trump mengakui kemungkinan kesepakatan masih ada, sementara Iran melanjutkan perundingan dengan mediator Qatar, Pakistan, dan Oman.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah mekanisme diplomasi yang tersisa mencegah konflik terbuka yang lebih luas? Atau justru eskalasi ini akan menjadi awal dari blokade berkepanjangan yang mengguncang ekonomi global—dan Indonesia—lebih dalam lagi?



