Populasi Uni Eropa Diprediksi Puncak pada 2029, Ancaman Penuaan Penduduk Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Jumlah penduduk 27 negara Uni Eropa diperkirakan mencapai puncak 453,3 juta jiwa pada 2029, lalu terus menurun hingga 398,8 juta pada 2100.
- Penuaan penduduk dipicu oleh peningkatan harapan hidup, namun menimbulkan tekanan pada pasar tenaga kerja, anggaran publik, dan sistem perawatan.
- Uni Eropa mendorong peningkatan produktivitas dan pengangguran rendah, serta melihat migrasi sebagai solusi terbatas untuk mengatasi dampak demografis.

Populasi Uni Eropa (UE) yang terdiri dari 27 negara diproyeksikan mencapai titik tertinggi pada tahun 2029, sebelum memasuki fase penurunan jangka panjang yang berpotensi mengubah lanskap sosial dan ekonomi kawasan. Laporan yang dirilis oleh Pusat Penelitian Gabungan Komisi Eropa, Selasa (14/7), menyebutkan bahwa jumlah penduduk saat ini sebanyak 450,6 juta jiwa akan naik tipis menjadi 453,3 juta pada 2029, lalu merosot secara perlahan hingga mencapai 398,8 juta pada tahun 2100โsetara dengan level yang terakhir kali tercatat pada dekade 1970-an.
Penurunan ini terutama dipicu oleh meningkatnya angka harapan hidup yang mencapai 81,5 tahun pada 2024, berkat perbaikan layanan kesehatan dan kondisi sosial. Namun, usia harapan hidup yang lebih panjang justru membawa konsekuensi serius: proporsi penduduk lanjut usia (lansia) membengkak. Pada 2050, hampir satu dari tiga warga UE diperkirakan berusia 65 tahun ke atas, naik dari satu per lima saat ini. Bahkan pada 2100, harapan hidup perempuan bisa menembus 90 tahun dan laki-laki 86 tahun.
Komisioner UE untuk Demografi, Dubravka Suica, menegaskan bahwa perubahan demografis ini merupakan salah satu pencapaian terbesar umat manusia, namun juga menghadirkan tantangan besar. "Kita hidup lebih lama dan lebih sehat dari sebelumnya. Tapi perubahan demografis sedang membentuk ulang masyarakat, ekonomi, dan pasar tenaga kerja kita. Kita harus bertindak sekarang untuk mengubah transformasi ini menjadi peluang," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Laporan tersebut mengidentifikasi sejumlah tekanan yang akan dihadapi UE, termasuk kekurangan tenaga kerja, beban anggaran publik yang semakin berat, serta tekanan pada sistem perawatan dan pendidikan. Saat ini, sekitar 20 persen penduduk usia kerja di Eropa tidak berpartisipasi dalam angkatan kerja, sementara delapan juta anak muda tidak bekerja, tidak bersekolah, atau tidak mengikuti pelatihan. Kondisi ini memperparah dampak menyusutnya populasi produktif.
Uni Eropa menekankan perlunya mendorong produktivitas dan menekan angka pengangguran untuk mengimbangi efek penyusutan tenaga kerja. Migrasi dipandang dapat membantu meredam dampak perubahan demografis, namun para peneliti mengingatkan bahwa migrasi saja tidak akan cukup untuk "sepenuhnya" mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh populasi yang menua.
Di sisi lain, laporan juga mencatat sisi positif dari fenomena ini, yakni munculnya "ekonomi perak"โpasar barang dan jasa yang tumbuh untuk memenuhi kebutuhan warga lanjut usia. Peluang bisnis di sektor kesehatan, perawatan jangka panjang, teknologi bantu, dan rekreasi lansia diprediksi akan berkembang pesat.
Bagi Indonesia, tren demografis Eropa menjadi pengingat akan pentingnya mengelola bonus demografi yang masih dinikmati saat ini. Dengan struktur penduduk yang relatif muda, Indonesia memiliki kesempatan untuk mempersiapkan sistem jaminan sosial, layanan kesehatan, dan pasar tenaga kerja sebelum memasuki fase penuaan serupa. Pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah Indonesia akan mampu memanfaatkan momentum ini, atau justru terjebak dalam jebakan demografis seperti yang kini dihadapi Eropa?



