Mick Jagger Buka Suara: Panggung Tinggalkan Luka Psikologis Permanen
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Rolling Stones, Mick Jagger, mengakui ketenaran selama puluhan tahun meninggalkan dampak psikologis permanen, termasuk disosiasi dan kekacauan identitas.
- Jagger menyebut kehidupan panggung yang ekstrem memaksa para artis membangun ego besar, namun seringkali sulit melepaskan persona tersebut di kehidupan nyata.
- Pengakuan ini membuka diskusi tentang tekanan mental di industri hiburan yang relevan dengan fenomena serupa di Indonesia, seperti beban psikologis pada selebritas lokal.

Mick Jagger, vokalis legendaris Rolling Stones yang kini berusia 82 tahun, untuk pertama kalinya mengakui secara terbuka bahwa ketenaran yang ia nikmati selama puluhan tahun meninggalkan bekas psikologis yang tak terhapuskan. Dalam wawancara dengan The New York Times, ia mengungkapkan bagaimana sorotan panggung dan tekanan industri hiburan telah mengubah cara ia memandang dirinya sendiri, bahkan memicu kondisi disosiasi—perasaan terputus dari realitas dan orang lain.
Jagger menjelaskan bahwa kehidupan seorang bintang panggung sangat jauh dari normal. “Ini jelas tidak normal. Tidak seperti kehidupan kebanyakan orang. Ini memengaruhimu. Kamu bisa menjadi terdisosiasi dari orang lain,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa banyak pelaku industri hiburan cenderung hanya bergaul dengan sesama mereka, menciptakan gelembung yang semakin menjauhkan dari apa yang disebut “kehidupan nyata”.
Untuk tetap membumi, Jagger mengaku melakukan hal-hal sederhana seperti berjalan kaki sendirian di jalan atau membeli koran. Namun, ia segera menegaskan bahwa cara itu hanya memberikan kelegaan sementara. “Secara psikologis, keadaan pikiranmu benar-benar rusak secara permanen,” katanya, menggambarkan luka batin yang tak kunjung sembuh.
Fenomena yang diungkapkan Jagger mengingatkan pada metode akting (method acting), di mana seorang aktor tetap berada dalam karakter bahkan setelah syuting selesai. “Butuh waktu lama untuk melepaskan karakter itu. Lalu karakter mana yang kamu kembalikan?” tanyanya retoris. Ia menyebut ini sebagai “dikotomi show business” dan berharap di balik semua itu dirinya tetaplah orang normal.
Dalam konteks Indonesia, pengakuan Jagger relevan dengan tekanan serupa yang dialami selebritas Tanah Air. Industri hiburan Indonesia yang semakin kompetitif, dengan tuntutan media sosial dan ekspektasi penggemar, kerap memicu masalah kesehatan mental. Beberapa artis lokal seperti penyanyi dan aktor telah berbicara terbuka tentang depresi dan kecemasan akibat sorotan publik. Namun, belum banyak yang secara eksplisit menyebut dampak permanen seperti yang dialami Jagger.
Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Djuwita, menilai bahwa pengakuan Jagger membuka mata tentang harga yang harus dibayar seorang bintang. “Disosiasi adalah mekanisme pertahanan diri yang umum pada individu yang mengalami tekanan ekstrem. Namun, jika berlangsung lama, bisa mengganggu identitas diri,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa dukungan psikologis profesional sangat penting bagi artis, terutama di awal karier.
Jagger sendiri mengakui bahwa memiliki ego besar adalah syarat mutlak untuk bertahan di industri ini. Namun, ia juga memperingatkan bahwa mereka yang tidak memiliki ego besar akan menghadapi masalah besar karena harus memproduksi kepribadian yang sama sekali berbeda. “Ini adalah perjalanan ego yang besar, dan kamu harus memiliki ego yang besar untuk melakukan ini,” katanya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah industri hiburan global—termasuk Indonesia—akan lebih serius menangani kesehatan mental para artisnya. Ataukah luka psikologis seperti yang dialami Jagger akan terus dianggap sebagai konsekuensi yang tak terhindarkan dari ketenaran?



