Mac Allister di Persimpangan: Antara Panggung Dunia dan Masa Depan di Liverpool
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Argentina Alexis Mac Allister tampil gemilang di Piala Dunia 2026 dengan catatan tak terkalahkan dalam 12 laga, namun performanya bersama Liverpool musim lalu menurun drastis.
- Kontrak Mac Allister di Anfield masih tersisa dua tahun, tetapi belum ada perpanjangan, sementara rekan setimnya mulai mendapatkan kesepakatan baru.
- Pelatih anyar Liverpool, Andoni Iraola, harus memutuskan apakah akan membangun lini tengah di sekeliling Mac Allister atau melepasnya di bursa transfer musim panas ini.

Alexis Mac Allister, gelandang serba bisa milik Liverpool, tengah menjadi sorotan setelah membawa Argentina melaju ke semifinal Piala Dunia 2026. Di balik performa apiknya bersama tim Tango, masa depannya di Anfield justru diselimuti tanda tanya. Kontraknya yang tersisa dua musim dan belum adanya pembicaraan perpanjangan membuat situasi ini kian menarik untuk dicermati.
Mac Allister, yang bergabung dari Brighton pada 2023 dengan biaya 35 juta pound sterling, sempat menjadi pilar penting saat Liverpool merebut gelar Premier League 2024/2025 di bawah asuhan Arne Slot. Namun, musim lalu ia mengalami penurunan performa yang signifikan, diperparah cedera di awal musim. Catatan statistiknya menurun drastis, dan banyak pihak mulai mempertanyakan konsistensinya.
Di sisi lain, Piala Dunia 2026 menjadi ajang pembuktian bagi pemain berusia 27 tahun itu. Ia menjadi satu-satunya pemain yang memenangi seluruh 12 laga Piala Dunia yang dijalaninya. Dalam turnamen ini, Mac Allister telah bermain 539 menit, memenangi 31 duel, melakukan 10 tekel, dan 9 intersepsi. Hanya kiper Emiliano Martinez yang mencatat menit bermain lebih banyak untuk Argentina. Ketangguhannya di lini tengah menjadi aset berharga bagi tim asuhan Lionel Scaloni.
Pelatih anyar Liverpool, Andoni Iraola, yang menggantikan Arne Slot, tentu mengamati perkembangan ini. Iraola dikenal dengan sistem pressing tinggi dan tuntutan fisik yang besar terhadap gelandangnya. Mac Allister, yang mengaku paling nyaman bermain sebagai gelandang nomor delapan atau double pivot, dinilai cocok dengan skema tersebut. Namun, masalah kebugaran menjadi kendala: jika Argentina melaju hingga final, Mac Allister baru akan kembali ke klub pada 10 Agustus, kurang dari dua pekan sebelum Premier League dimulai. Ia kemungkinan besar belum siap tampil penuh di awal musim.
Keputusan kontrak menjadi isu krusial. Liverpool tengah aktif memperpanjang kontrak pemain kunci: Szoboszlai sedang dalam negosiasi, Gravenberch baru meneken perpanjangan pada Mei lalu. Sementara Mac Allister, belum ada gerakan serupa. Jika tidak ada kesepakatan baru dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin Liverpool akan mempertimbangkan tawaran pada bursa transfer musim panas ini. Langkah serupa pernah mereka lakukan saat melepas Luis Diaz ke Bayern Munich tahun lalu. Di tengah meroketnya harga gelandang, keputusan ini tentu tidak mudah.
Mac Allister sendiri memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Liverpool. Ia pernah menyebut klub sebagai "keluarga" dan memuji Arne Slot sebagai "jembatan sempurna" setelah kepergian Juergen Klopp. Namun, hubungan dengan Iraola akan menjadi faktor penentu. Keduanya sama-sama berharap musim lalu hanyalah sebuah blip dan masa depan masih cerah. Untuk saat ini, fokus Mac Allister tertuju pada laga semifinal melawan Inggris, negara yang telah menjadi rumahnya sejak 2020.
Pertanyaan besarnya: akankah Liverpool mempertahankan gelandang berlabel juara ini, atau justru memanfaatkan momen untuk mendapatkan keuntungan finansial? Jawabannya mungkin baru terlihat setelah Piala Dunia usai.



