Rekayasa Lalu Lintas di Kuningan: Akses ke Mampang Ditutup Imbas Pembongkaran JPO
Baca dalam 60 detik
- Akses dari Gatot Subroto menuju Mampang Prapatan dialihkan di perempatan Kuningan akibat pembongkaran JPO yang nyaris roboh.
- Pembongkaran dilakukan setelah truk crane menabrak JPO di Kapten Tendean; sopir diduga menggunakan ponsel saat kejadian.
- Pengendara diimbau mencari rute alternatif karena penanganan masih berlangsung dan kemacetan meluas.

Rekayasa lalu lintas diberlakukan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (14/7) sore, menyusul pembongkaran darurat jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jalan Kapten Tendean yang nyaris roboh setelah ditabrak truk pengangkut crane. Akses dari Jalan Gatot Subroto menuju Mampang Prapatan ditutup total di perempatan Kuningan, memaksa pengendara mencari jalur alternatif.
Berdasarkan pantauan di lapangan hingga pukul 15.35 WIB, petugas memasang barrier di tiga titik akses menuju Mampang Prapatan. Kendaraan dari arah Gatot Subroto tidak bisa langsung belok kanan, melainkan diarahkan belok kiri ke Jalan HR Rasuna Said, kemudian berputar balik untuk mencapai tujuan. Sementara itu, pengendara dari arah Pancoran juga tidak dapat langsung belok kiri menuju Mampang. Akibatnya, arus lalu lintas di sekitar perempatan Kuningan mengalami kemacetan panjang. Polisi dan petugas Transjakarta terlihat sibuk mengatur kendaraan.
Proses pembongkaran JPO yang ditabrak truk di Jalan Kapten Tendean masih berlangsung hingga pukul 15.56 WIB. Melalui akun media sosial X, TMC Polda Metro Jaya mengimbau pengendara untuk mencari rute alternatif. "Situasi terkini di Jl. Kapten Tendean imbas JPO ditabrak truk masih dalam penanganan pemotongan," tulis akun @TMCPoldaMetro. Truk crane yang menjadi penyebab insiden telah berhasil dievakuasi, namun karena JPO sudah dalam kondisi kritis dan membahayakan, Dinas Bina Marga memutuskan untuk membongkar seluruh struktur jembatan.
Kepala Suku Dinas Bina Marga Jakarta Selatan, Rifki Rismal, menjelaskan bahwa pembongkaran total tidak bisa dihindari. "Pondasi di sisi selatan sudah lepas, dan kami tidak memiliki penunjang di tengah, sehingga mau tidak mau harus dibongkar seluruhnya," ujarnya kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa pembongkaran setengah tidak memungkinkan karena risiko ambruk masih tinggi. Peristiwa ini menambah daftar panjang kecelakaan infrastruktur akibat kelalaian pengemudi kendaraan besar di Jakarta.
Kecelakaan ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan berkendara, terutama bagi sopir truk dan kendaraan berat. Dugaan sementara menyebutkan sopir truk crane sedang menggunakan ponsel saat kejadian, yang jika terbukti benar, akan menjadi faktor kelalaian serius. Polda Metro Jaya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Sementara itu, pengendara diimbau untuk memantau informasi lalu lintas terkini dan menghindari ruas jalan yang terdampak hingga proses pembongkaran selesai.
Ke depan, perlu ada evaluasi terhadap prosedur pengawasan kendaraan berat di jalan raya, terutama di kawasan padat lalu lintas seperti Jakarta Selatan. Apakah regulasi saat ini cukup ketat untuk mencegah insiden serupa? Pertanyaan ini layak dijawab oleh pemangku kebijakan demi keselamatan bersama.



