Thomson Reuters PHK 500 Karyawan Teknologi, AI Mulai Gantikan Pekerjaan Insinyur
Baca dalam 60 detik
- Thomson Reuters mengurangi sekitar 500 posisi teknik, setara 1,8% total tenaga kerja, sebagai bagian dari strategi adopsi AI.
- Langkah ini mencerminkan tren global di mana AI menggeser peran insinyur perangkat lunak, dengan lebih dari 120.000 pekerja teknologi kehilangan pekerjaan pada 2026.
- Perusahaan berencana merekrut 250 insinyur baru yang fokus pada AI dalam dua tahun ke depan, menandai pergeseran keahlian yang dibutuhkan.

Thomson Reuters, perusahaan konten dan teknologi asal Kanada, mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah kecil staf teknik pada Senin (13/7) sebagai bagian dari strategi agresif mengadopsi kecerdasan buatan (AI) di seluruh lini bisnisnya. Langkah ini menjadi sinyal terbaru bahwa gelombang otomatisasi mulai berdampak langsung pada sektor teknologi, terutama profesi yang selama ini dianggap aman.
Menurut seorang karyawan yang hadir dalam pertemuan internal yang tidak dipublikasikan, PHK tersebut bersifat global dan diperkirakan mencapai 500 posisi. Jumlah itu setara dengan 1,8 persen dari total tenaga kerja Thomson Reuters yang berjumlah sekitar 27.100 orang, berdasarkan laporan tahunan perusahaan tahun 2025. Lebih spesifik, pemangkasan ini mencakup 5,2 persen dari 9.400 karyawan di unit operasi dan teknologi.
Keputusan ini bukanlah kasus isolasi. Sepanjang 2026, lebih dari 120.000 pekerja teknologi dari 228 perusahaan, termasuk raksasa seperti Meta dan Amazon, telah kehilangan pekerjaan, menurut data pelacak PHK layoffs.fyi. AI yang mampu menulis kode program secara efisien menjadi biang keladi utama, membuat insinyur perangkat lunak menjadi kelompok pertama yang merasakan dampak ekonomi dari teknologi baru ini.
Juru bicara Thomson Reuters menyatakan bahwa perusahaan tengah memfokuskan kapasitasnya pada hal yang paling penting bagi pelanggan, seiring dengan evolusi ekspektasi di bidang hukum, pajak, dan regulasi. "Kami mendukung rekan kerja yang terdampak selama masa transisi. Pada saat yang sama, kami berencana merekrut lebih dari 250 insinyur baru secara global dalam dua tahun ke depan, yang sebagian besar adalah insinyur senior dan yang melek AI," ujarnya.
Fenomena ini memiliki implikasi langsung bagi Indonesia. Meskipun PHK massal di perusahaan global belum tentu terjadi di dalam negeri, tren adopsi AI di sektor teknologi Indonesia patut dicermati. Banyak perusahaan rintisan (startup) dan perusahaan teknologi di Indonesia mulai mengintegrasikan AI untuk efisiensi, yang berpotensi mengurangi kebutuhan akan tenaga pengembang perangkat lunak tingkat pemula. Di sisi lain, permintaan terhadap insinyur yang menguasai AI justru meningkat, menciptakan kesenjangan keterampilan yang perlu diantisipasi oleh para pekerja dan institusi pendidikan.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah AI akan menggantikan pekerjaan, tetapi seberapa cepat dan sektor mana yang akan terdampak paling dalam. Thomson Reuters, yang juga merupakan induk dari Reuters News, menunjukkan bahwa bahkan perusahaan yang bergerak di bidang konten dan informasi pun tidak kebal terhadap efisiensi berbasis AI. Bagi para profesional teknologi di Indonesia, ini adalah alarm untuk segera beradaptasi atau berisiko tertinggal.



