Proyek Favorit Trump: Kolam Refleksi Lincoln Memorial Dikuras Usai Dicat Ulang Rp226 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengurasan Kolam Refleksi Lincoln Memorial untuk memperbaiki kerusakan yang dituding akibat aksi vandalisme, setelah proyek renovasi senilai US$14 juta menuai masalah.
- Mantan atlet kano Olimpiade AS, David Hearn, menjadi salah satu tersangka yang didakwa merusak kolam, namun ia membantah tuduhan tersebut.
- Proyek ini menjadi sorotan karena anggaran besar dan kegagalan teknis, memicu perdebatan tentang prioritas pengeluaran publik di AS.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyoroti proyek renovasi Kolam Refleksi Lincoln Memorial di Washington yang menjadi salah satu proyek favoritnya. Pada Senin (13/7) waktu setempat, Trump mengumumkan bahwa kolam tersebut dikuras untuk perbaikan setelah serangkaian kendala, termasuk tuduhan vandalisme yang ditudingkan kepada seorang mantan atlet Olimpiade.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa kolam yang indah itu harus dikuras untuk memperbaiki bekas luka dan kerusakan yang disebabkan oleh para pengacau dua pekan lalu. Ia menambahkan bahwa pengurasan sengaja dilakukan setelah perayaan Hari Kemerdekaan AS pada 4 Juli. โDinas Taman harus mengosongkan air untuk memperbaiki cekungan kedap air. Kolam akan diisi ulang dan segera berfungsi kembali,โ tulis Trump.
Proyek renovasi kolam yang terletak di dekat Monumen Lincoln ini diperkirakan menelan biaya setidaknya US$14 juta atau sekitar Rp226 miliar. Namun, tak lama setelah pekerjaan pengecatan dan penyegelan selesai, lapisan cat mulai mengelupas dan alga mengubah air kolam menjadi hijau keruh. Trump berulang kali menyalahkan para pengacau tanpa memberikan bukti yang jelas.
Salah satu yang dituduh terlibat dalam aksi vandalisme adalah David Hearn, mantan atlet slalom kano yang pernah mewakili AS di Olimpiade. Pekan lalu, Hearn mengaku tidak bersalah atas dakwaan vandalisme. Kasus ini menambah daftar kontroversi seputar proyek yang digadang-gadang sebagai salah satu upaya Trump mempercantik ibu kota.
Bagi Indonesia, proyek semacam ini mengingatkan pada pentingnya transparansi anggaran dan pengawasan dalam proyek-proyek publik bernilai besar. Di dalam negeri, kasus serupa sering terjadi ketika proyek infrastruktur atau revitalisasi mengalami kendala teknis dan pembengkakan biaya, namun jarang ada pihak yang bertanggung jawab. Pengalaman AS menunjukkan bahwa meskipun proyek digagas oleh pemimpin tertinggi, kegagalan tetap bisa terjadi dan memicu perdebatan publik.
Ke depannya, nasib Kolam Refleksi Lincoln Memorial masih belum jelas. Meski Trump optimistis kolam akan segera berfungsi kembali, pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan proyek dan akuntabilitas kontraktor masih menggantung. Apakah tuduhan vandalisme hanya sekadar alih isu untuk menutupi kegagalan teknis? Atau benar ada unsur kesengajaan? Publik menunggu hasil investigasi lebih lanjut.



