LTM Yakin Pendapatan AI Akan Salip Bisnis Tradisional, Investor Mulai Melirik
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan IT India LTM memproyeksikan pendapatan dari kecerdasan buatan akan melampaui jasa konvensional dalam beberapa tahun ke depan.
- Kemitraan dengan Anthropic untuk menyebarkan model Claude menjadi kunci strategi LTM meraih pasar implementasi AI perusahaan.
- Kekhawatiran investor terhadap disrupti AI telah menekan indeks Nifty IT India lebih dari 23% tahun ini, namun LTM justru melihat peluang baru.

Perusahaan jasa perangkat lunak India, LTM, optimistis pendapatan dari kecerdasan buatan (AI) akan melampaui pendapatan dari layanan tradisional dalam waktu dekat. Keyakinan itu disampaikan langsung oleh CEO Venu Lambu kepada Reuters, Senin (14/7), di tengah kekhawatiran investor bahwa AI generatif bisa menggerus bisnis perusahaan IT konvensional.
LTM baru saja mengumumkan kemitraan dengan Anthropic, pengembang model bahasa besar Claude, untuk menyediakan layanan penerapan AI bagi klien korporat. Langkah ini diambil saat indeks Nifty IT India tercatat anjlok lebih dari 23% secara year-to-date, menuju kerugian terbesar kedua sejak 2008. Lambu menilai, alih-alih menjadi ancaman, model AI canggih justru membuka pasar implementasi baru bagi perusahaan IT yang mampu memberikan konteks tepat dengan biaya sesuai.
Menurut Lambu, hampir semua kesepakatan yang ditangani LTM saat ini mengandung komponen AI. Namun, ia menekankan bahwa model frontier yang mahal tidak selalu diperlukan untuk setiap skenario bisnis. Proyek AI, katanya, cenderung dimulai dalam skala kecil dan beragam, tetapi begitu satu bukti keberhasilan diberikan kepada pelanggan, permintaan akan berlipat ganda. Ia memperkirakan adopsi AI di kalangan perusahaan akan mengalami percepatan pada paruh kedua tahun fiskal 2027.
LTM membedakan pendapatan AI menjadi dua kategori: AI-native, di mana AI dirancang sebagai komponen inti sejak awal, dan enterprise AI yang berupa penanaman AI ke dalam tumpukan teknologi klien. Perusahaan tidak memasukkan penjualan dari enterprise AI ke dalam kelompok pendapatan AI yang dilaporkan. Sementara itu, HCLTech, pesaing yang lebih besar, melaporkan pendapatan AI lanjutan sebesar US$171 juta pada kuartal Juni, atau sekitar 4,6% dari total pendapatan.
Lambu juga menyoroti kekhawatiran utama klien terkait biaya token yang dikeluarkan saat menggunakan model AI. Banyak perusahaan AI kini beralih ke sistem harga berbasis token yang membebani pelanggan berdasarkan pemakaian. LTM fokus membantu perusahaan membangun kerangka tata kelola untuk mengendalikan penggunaan dan biaya. "Ini menjadi perhatian besar bagi klien," ujarnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat ekosistem IT nasional juga mulai merambah layanan AI. Perusahaan seperti Telkom dan GoTo telah bereksperimen dengan model bahasa besar untuk meningkatkan efisiensi operasional. Namun, adopsi AI di Indonesia masih terhambat oleh keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia. Strategi LTM yang mengedepankan implementasi bertahap dan pengendalian biaya bisa menjadi referensi bagi pelaku industri dalam negeri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah model bisnis AI-native seperti yang dijalankan LTM mampu bertahan di tengah tekanan biaya dan persaingan ketat. Jika adopsi enterprise AI benar-benar melonjak pada 2027, bukan tidak mungkin perusahaan IT global akan berlomba-lomba merebut pangsa pasar yang sama, termasuk di Asia Tenggara.



