Lamine Yamal: Sepak Bola Harus Menyatukan, Bukan Memecah Belah
Baca dalam 60 detik
- Lamine Yamal, bintang muda Spanyol berusia 19 tahun, menegaskan sepak bola sebagai alat pemersatu jelang semifinal Piala Dunia melawan Prancis.
- Pernyataan itu muncul sebagai respons terhadap komentar kontroversial mantan PM Spanyol Mariano Rajoy yang menyebut Prancis tidak memiliki pemain Prancis asli.
- Yamal, yang lahir dari ayah Maroko dan ibu Guinea Khatulistiwa, menjadi simbol integrasi di tengah perdebatan identitas nasional di Eropa.

Lamine Yamal, penyerang timnas Spanyol yang baru genap 19 tahun, memilih untuk tidak terjebak dalam kontroversi politik. Menjelang laga semifinal Piala Dunia melawan Prancis di Dallas, ia justru menyampaikan pesan yang lebih besar: sepak bola harus menjadi jembatan, bukan tembok pemisah. Diamonds di lehernya dan ulang tahun yang baru dirayakan tak membuatnya lupa pada esensi olahraga yang ia geluti.
Pernyataan Yamal muncul setelah mantan Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, melontarkan komentar yang memicu perdebatan. Rajoy menyebut Prancis sebagai tim hebat, tetapi "tidak memiliki pemain Prancis". Ucapan itu dianggap menyinggung keberagaman etnis dalam skuad Prancis yang multikultural. Yamal, yang lahir dari ayah Maroko dan ibu Guinea Khatulistiwa, langsung merespons dengan kepala dingin.
"Sepak bola ada untuk menyatukan orang," ujar Yamal dalam konferensi pers di Dallas. "Prancis dan Spanyol adalah contoh integrasi. Itulah esensi sepak bola: integrasi. Bukan membicarakan apa yang dikatakan orang lain." Jawaban ini menunjukkan kedewasaan seorang pemain muda yang sadar akan pengaruh katanya di panggung global.
Di usianya yang masih belia, Yamal sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Namun, ia tetap rendah hati. Ketika ditanya tentang adiknya, Keyne, yang kerap berulah di depan kamera, Yamal tersenyum. "Adikku tidak sadar. Dia melakukan apa yang biasa dia lakukan di rumah, dan saat kamera menyorotnya, dia mulai nakal. Saya senang orang-orang menyukainya. Lucu melihatnya di layar," katanya.
Yamal juga tak ragu mengakui bahwa laga nanti adalah yang terpenting dalam hidupnya. Meski baru satu gol, ia tak tertekan. "Setiap turnamen berbeda. Saya tidak khawatir hanya mencetak satu gol sejauh ini. Kami menang. Saya pernah melihat Piala Dunia di mana Spanyol tersingkir, dan itu belum terjadi. Saya berharap bisa terus bermain dan mencetak gol," ujarnya.
Bagi Indonesia, kisah Yamal menjadi cermin bagaimana sepak bola bisa menjadi alat diplomasi dan integrasi. Di tengah isu rasisme dan diskriminasi yang masih menghantui sepak bola Eropa, sikap Yamal mengingatkan bahwa lapangan hijau adalah ruang bersama tanpa sekat. Timnas Indonesia sendiri, yang multikultural, bisa mengambil pelajaran dari semangat inklusivitas yang ditunjukkan pemain muda ini.
Pertandingan Spanyol versus Prancis diprediksi berlangsung sengit. Yamal sendiri optimistis. "Ini akan menjadi pertandingan hebat. Pertandingan yang semua orang harapkan terjadi. Kedua tim akan menyerang dan bertahan. Pasti akan sangat seimbang," tutupnya. Kini, ia hanya ingin sepak bola berbicaraโcukup keras untuk membawa Spanyol melaju setidaknya satu langkah lebih jauh.



