Ekspor China Melonjak 27% di Juni, AI Jadi Motor Utama
Baca dalam 60 detik
- Ekspor China tumbuh 27% year-on-year pada Juni 2026, melampaui ekspektasi analis berkat permintaan chip dan pusat data untuk kecerdasan buatan.
- Impor melonjak 36%, tertinggi dalam lima tahun, didorong pembelian semikonduktor dari Korea Selatan dan Taiwan yang masing-masing naik 85% dan 41,1%.
- Meski ekspor kuat, konsumsi domestik masih lemah dengan ritel datar dan investasi tetap negatif, mendorong spekulasi stimulus lebih lanjut.

Ekspor China mencatatkan lonjakan signifikan pada Juni 2026, didorong oleh permintaan global yang kuat terhadap chip dan infrastruktur pusat data untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatan (AI). Kinerja ini memberikan ruang napas bagi pemerintah yang tengah berjuang mendongkrak konsumsi di dalam negeri.
Data bea cukai yang dirilis Selasa (14/7) menunjukkan nilai ekspor dalam dolar AS naik 27% dibanding periode yang sama tahun lalu, melampaui perkiraan ekonom yang hanya sebesar 18,2%. Capaian ini sekaligus menjadi yang tertinggi dalam empat bulan terakhir. Sementara itu, impor melesat 36%, jauh di atas prediksi 24% dan mencatat rekor pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun.
Menurut Xu Tianchen, ekonom senior Economist Intelligence Unit di Beijing, kekuatan ekspor yang berkelanjutan terutama ditopang oleh investasi AI global. "Ini menandakan paruh kedua yang lebih baik, ditambah dengan bauran kebijakan yang lebih ekspansif, percepatan belanja fiskal, dan pelonggaran moneter moderat," ujarnya. Namun, ia mengingatkan bahwa permintaan domestik masih menjadi beban, dengan penjualan ritel yang stagnan dan investasi aset tetap yang negatif pada bulan lalu.
Lonjakan impor juga mencerminkan kebutuhan China akan komponen semikonduktor. Impor dari Korea Selatan, produsen chip utama, melonjak 85% secara tahunan, sementara dari Taiwan naik 41,1%. Ini mengindikasikan rantai pasok teknologi yang semakin terintegrasi di kawasan Asia Timur.
Di sisi lain, eksportir China juga diuntungkan oleh aksi pengecer AS yang memajukan pesanan empat hingga enam minggu lebih awal untuk mengantisipasi kenaikan tarif yang direncanakan akhir tahun ini. Namun, ketidakpastian masih tinggi setelah kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada Mei lalu gagal menghasilkan terobosan berarti dalam hubungan dagang kedua negara.
Bagi Indonesia, tren ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Sebagai mitra dagang utama China, Indonesia bisa memanfaatkan permintaan komoditas dan komponen elektronik. Namun, jika China terus menggenjot ekspor dengan harga agresif, produk Indonesia berisiko kalah bersaing di pasar global. Selain itu, pelemahan permintaan domestik China dapat menekan harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia.
Kinerja ekspor yang kuat membantu perekonomian China tumbuh di atas ekspektasi pada kuartal I-2026, namun momentum mulai mendingin. Para ekonom khawatir jika kondisi eksternal memburuk, China yang masih lemah secara domestik akan rentan terkena dampak. Pemerintah diperkirakan akan mengumumkan stimulus tambahan, terutama setelah data produk domestik bruto kuartal II dirilis pada Rabu (15/7).
Pertanyaan besarnya, akankah pemerintah China mampu menyeimbangkan antara mendorong konsumsi dalam negeri dan mempertahankan daya saing ekspor di tengah ketegangan geopolitik yang masih membara?



