Polusi Udara Tak Hanya Rusak Paru, tapi Juga Menggerogoti Kesehatan Mental
Baca dalam 60 detik
- Paparan polusi udara kronis terbukti memicu gangguan kognitif dan emosional, bukan sekadar penyakit fisik.
- Tangerang Selatan menjadi episentrum polusi dengan 1,3 juta kendaraan dan kawasan industri sebagai kontributor utama.
- Para ahli mendorong perubahan perilaku individu dan kebijakan infrastruktur untuk menekan risiko kesehatan ganda.

Langit kelabu dan udara yang terasa sesak bukan lagi sekadar pemandangan biasa di Tangerang Selatan, melainkan alarm bagi kesehatan fisik dan mental warganya. Para ahli memperingatkan bahwa polusi udara tidak hanya mengancam paru-paru dan jantung, tetapi juga secara perlahan menggerogoti fungsi kognitif dan stabilitas emosi.
Wisya Aulia Prayudi, Urban & Environmental Health Lead CISDI, menilai Tangerang Selatan sebagai salah satu kota paling berpolusi di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Banten mencatat setidaknya 1,3 juta kendaraan bermotor beroperasi hingga 2025, ditambah kawasan industri di sekitarnya yang menyumbang emisi signifikan. Faktor lain yang kerap luput dari perhatian adalah praktik pembakaran sampah sembarangan yang menghasilkan super polutan.
Dampak polusi terhadap kesehatan mental dijelaskan oleh Winona Lalita, psikolog klinis dari Noutrisi Jiwa. Menurutnya, ketika seseorang bangun pagi dan mendapati langit suram, rasa lemas, cemas, atau hilangnya motivasi bukanlah sekadar sugesti. Tubuh dan pikiran bereaksi terhadap lingkungan yang tidak sehat. Pasokan oksigen ke otak berkurang drastis, memicu lonjakan hormon kortisol dan membuat tubuh terus berada dalam mode siaga. Akibatnya, fungsi kognitif terganggu, emosi menjadi tidak stabil, dan muncul keengganan untuk beraktivitas.
Selain itu, partikel PM2,5 yang berukuran sangat kecil dapat masuk ke aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Dalam jangka panjang, paparan polusi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan pernapasan kronis, diabetes, hingga penurunan fungsi kognitif dan demensia. Polusi juga mempertegas kesenjangan sosial: pekerja berpenghasilan rendah dan masyarakat marginal yang mencari nafkah di ruang terbuka menjadi pihak paling rentan.
Dimas Gilang, Program Director Bike2Work Indonesia, merasakan langsung dampak polusi dalam perjalanan harian dari Serpong ke Jakarta. Meski bersepeda dan menggunakan KRL membantunya menjaga kesehatan mental, ia mengakui bahwa perubahan perilaku individu saja tidak cukup. Bike2Work bersama Koalisi Pejalan Kaki mendesak pemerintah membangun jalur sepeda, trotoar yang layak, serta fasilitas parkir sepeda yang aman di stasiun. Konektivitas first mile dan last mile menjadi faktor kunci agar masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.
Nada Arini, kreator konten, menambahkan bahwa sumber polusi seperti transportasi dan pembakaran sampah adalah dua hal yang paling mungkin dikendalikan masyarakat. Menghentikan kebiasaan membakar sampah, mengurangi sampah dari sumbernya, serta hemat energi listrik di rumah merupakan langkah kecil namun berarti. Namun, ia mengingatkan bahwa solusi harus bersifat multiaspek dan berkelanjutan.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah pemerintah dan masyarakat bergerak bersama mengatasi krisis polusi yang tak hanya mengancam fisik, tetapi juga jiwa? Ataukah generasi mendatang harus terus hidup dalam bayang-bayang langit kelabu?



