Peta Politik Negeri Sembilan Makin Ketat: Kemenangan Johor Tak Jadi Jaminan
Baca dalam 60 detik
- Analis memprediksi pemilu negara bagian Negeri Sembilan akan berlangsung sengit karena banyak kursi ditentukan oleh selisih suara tipis, berbeda dengan kemenangan telak Barisan Nasional di Johor.
- Pergeseran pemilih Melayu ke Perikatan Nasional dan meningkatnya dukungan non-Melayu ke Barisan menciptakan lanskap elektoral yang lebih cair dan sulit diprediksi.
- Hasil pemilu Negeri Sembilan akan sangat bergantung pada isu lokal, figur calon, dan tingkat partisipasi pemilih, bukan sekadar efek limpahan dari kemenangan di Johor.

Kemenangan gemilang Barisan Nasional (BN) dalam pemilu negara bagian Johor belum tentu menjadi resep sukses yang sama di Negeri Sembilan. Para pengamat politik menilai kontestasi di Negeri Sembilan diprediksi berlangsung jauh lebih ketat dan tidak terduga, dengan banyak kursi yang bisa berubah hanya karena pergerakan beberapa ratus suara.
Analis politik dari Universitas Malaya, Prof. Datuk Dr. Awang Azman Awang Pawi, mengatakan bahwa kemenangan BN di Johor memang dapat meningkatkan moral kampanye dan memperkuat persepsi stabilitas koalisi di kalangan pemilih Melayu. Namun, ia menekankan bahwa dinamika lokal Negeri Sembilan sangat berbeda. "Pemilih yang ragu-ragu cenderung mendukung partai yang sedang naik daun, tetapi di Negeri Sembilan, persaingan antarpartai sangat ketat sehingga pergeseran kecil pun bisa berdampak besar," ujarnya.
Negeri Sembilan hanya memiliki 36 kursi negara bagian, jauh lebih sedikit dibandingkan 56 kursi di Johor. Kondisi ini membuat setiap perubahan suara terasa lebih signifikan. Menurut Awang Azman, hampir sepertiga kursi di Negeri Sembilan pada pemilu 2023 lalu dimenangkan dengan selisih kurang dari 1.000 suara. Sebagai perbandingan, hanya sekitar satu dari delapan kursi di Johor yang memiliki selisih sekecil itu pada pemilu 2022.
Awang Azman menambahkan bahwa tren jangka panjang menunjukkan peningkatan jumlah kursi marjinal di Negeri Sembilan sejak 2008. Hal ini menandakan pergeseran dari politik "kursi aman" menuju kontestasi yang lebih ketat dan berbasis isu lokal. Kursi dengan mayoritas pemilih Melayu dan semi-perkotaan kini semakin terpapar persaingan dari Perikatan Nasional (PN), sementara kerja sama Pakatan Harapan (PH) dan BN belum menjamin transfer suara yang mulus di akar rumput.
Senada dengan itu, sosiolog politik Universitas Sains Malaysia, Prof. Datuk Dr. Sivamurugan Pandian, menilai Negeri Sembilan mencerminkan tahap konvergensi elektoral yang lebih maju. Keunggulan partai semakin tipis dan tersebar merata. "Ini menunjukkan bahwa Negeri Sembilan menjadi semakin kompetitif dan cair, dengan loyalitas tradisional yang melemah dan pemilih yang lebih berorientasi pada isu," jelasnya. Ia menegaskan bahwa Johor hanyalah indikator positif, bukan prediktor definitif bagi Negeri Sembilan.
Sementara itu, analis politik Universitas Teknologi Malaysia, Dr. Mazlan Ali, mengingatkan bahwa lanskap politik Negeri Sembilan sangat rapuh dan sulit diprediksi karena keseimbangan kekuasaan yang sempit, dinamika koalisi yang kompleks, dan kemungkinan pergeseran aliansi antara BN, PH, dan PAS pasca pemilu Johor. "Hasil di Negeri Sembilan akan lebih banyak ditentukan oleh isu lokal, pemilihan calon, dan tingkat partisipasi pemilih, bukan sekadar efek ekor jas dari Johor," pungkasnya.
Pertanyaan besarnya kini: akankah BN mampu mempertahankan dominasinya di Negeri Sembilan, atau justru PN dan PH yang akan memanfaatkan fragmentasi suara untuk merebut kekuasaan? Jawabannya hanya akan terjawab setelah kotak suara dibuka.



