Xiaohongshu Guncang Pariwisata China: Dari Barbekyu Viral hingga Fotografer Jalanan
Baca dalam 60 detik
- Aplikasi gaya hidup Xiaohongshu mendorong rekor perjalanan domestik China dengan 6,5 miliar perjalanan pada 2025, naik 16%.
- Platform dengan 350 juta pengguna aktif bulanan ini mengubah pola wisata, mengarahkan arus ke destinasi non-konvensional seperti Zibo.
- Fotografer lepas di Beijing merasakan tekanan karena pesaing dengan banyak pengikut di Xiaohongshu mampu menarik lebih banyak pelanggan.

Persaingan sengit antar fotografer profesional di titik-titik wisata Beijing, seperti danau indah di kawasan bersejarah Shichahai, menjadi cerminan bagaimana Xiaohongshu—aplikasi gaya hidup terpopuler di China—telah mengubah lanskap pariwisata domestik. Para perempuan berjubah tradisional berpose untuk diunggah ke platform yang kerap disebut 'China-nya Instagram' ini, sementara fotografer berebut pelanggan di tengah tekanan dari pesaing yang memiliki basis pengikut besar di aplikasi tersebut.
Xiaohongshu, yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai RedNote, dilaporkan bersiap mengajukan penawaran umum perdana (IPO) tahun ini. Platform dengan antarmuka mirip Pinterest ini telah menjadi mesin penggerak utama pariwisata dalam negeri China, yang mencatat rekor baru pada 2025. Menurut laporan Xinhua pada Maret lalu, penduduk China melakukan lebih dari 6,5 miliar perjalanan domestik, meningkat 16% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan betapa besarnya peran aplikasi dalam mengarahkan arus wisatawan.
Fenomena 'daka' atau check-in di lokasi fotogenik menjadi kunci. Xiaohongshu tidak hanya mempopulerkan tempat-tempat ikonik, tetapi juga mengangkat destinasi yang sebelumnya tidak dikenal. Contoh paling mencolok adalah Zibo, kota industri kecil di Shandong yang tiba-tiba dibanjiri wisatawan setelah sate barbekyu murahnya viral di aplikasi. Hal ini membuktikan bahwa kekuatan rekomendasi pengguna mampu mengubah perekonomian lokal secara drastis.
Dampak Xiaohongshu terasa hingga ke tingkat mikro. Li Geng, fotografer berusia 18 tahun yang mangkal di Shichahai, mengaku hanya bisa mengandalkan teriakan untuk menarik pelanggan, berbeda dengan pesaingnya yang memiliki 45.000 pengikut di Xiaohongshu. "Pelanggan lebih banyak berbondong ke dia, dan itu memberi tekanan besar pada kami," ujarnya. Kondisi ini mencerminkan bagaimana algoritma dan popularitas digital kini menentukan siapa yang mendapat bagian dari kue pariwisata.
Menurut Ming Yii Lai, konsultan strategi senior di Daxue Consulting, Xiaohongshu kini menjadi sumber inspirasi utama bagi wisatawan muda. "Mereka mencari ide perjalanan di sana sebelum ke mana pun," katanya. Basis pengguna inti aplikasi ini tetap didominasi perempuan muda dari kota-kota kaya, seperti diungkapkan oleh platform analitik Qiangua. Tren ini membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memanfaatkan konten visual dan ulasan pengguna sebagai alat promosi yang efektif.
Bagi Indonesia, fenomena Xiaohongshu menawarkan pelajaran berharga. Di tengah booming pariwisata domestik, platform serupa seperti TikTok atau Instagram sudah mulai digunakan untuk mempromosikan destinasi lokal. Namun, kekuatan Xiaohongshu terletak pada komunitasnya yang sangat terkurasi dan fokus pada gaya hidup. Jika Indonesia ingin mengadopsi model serupa, perlu ada strategi untuk mendorong konten otentik dari pengguna, bukan sekadar iklan. Pertanyaannya, mampukah platform lokal meniru kesuksesan Xiaohongshu dalam mengubah perilaku wisatawan secara massif?



