Laser Tag untuk Latihan Kerja: Cara Baru Perusahaan Jepang Bangun Tim Solid
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan rintisan Jepang, CareerBond, menggunakan laser tag sebagai metode pelatihan kerja untuk meningkatkan komunikasi dan kerja tim.
- Setelah setiap sesi singkat, peserta dievaluasi melalui aplikasi yang mengidentifikasi delapan tipe peran, membantu refleksi perilaku di tempat kerja.
- Metode ini dinilai lebih efektif daripada pelatihan kelas tradisional karena mendorong pengambilan keputusan cepat tanpa memandang hierarki.

Di sebuah mal di Hirakata, Osaka, sekelompok karyawan berlarian sambil membawa senjata laser, bersembunyi di balik kotak kardus. Ini bukan sekadar permainan—ini adalah program pelatihan kerja generasi baru yang mengandalkan survival game, atau yang populer disebut sabage di Jepang.
Program ini digagas oleh Hideo Nishino, salah satu pendiri CareerBond LLC yang berbasis di Osaka. Nishino menilai pelatihan konvensional—ceramah di ruang kelas—sering gagal membangun kerja sama tim yang autentik. “Peserta cepat lupa, kurang terlibat, dan hasilnya tidak optimal,” ujarnya. Ia pun beralih ke hobinya, survival game, yang menurutnya menuntut keputusan cepat dan strategi kolektif, tanpa mengandalkan kekuatan fisik.
Pada Juni 2024, Nishino menggelar uji coba di Quintbridge, sebuah pusat inovasi milik NTT West. Hasilnya positif, dan pada Januari 2025 ia resmi mendirikan CareerBond untuk mengomersialkan metode ini. Kini, perusahaan-perusahaan Jepang mulai melirik pelatihan berbasis laser tag sebagai alternatif segar.
Yang menarik, metode ini secara tidak langsung meruntuhkan sekat hierarki. Teppei Shimokawa, manajer SDM NTT West yang membantu proyek ini, menjelaskan, “Keputusan harus diambil dalam sepersekian detik, sehingga orang tidak lagi memikirkan jabatan atau pangkat.” Dalam suasana permainan, instruksi seperti “Maju!” atau “Belok kiri!” terdengar alami—hal yang jarang terjadi di ruang rapat formal.
Shoji Ashida, presiden Actec Co., yang menjadi peserta uji coba, awalnya skeptis. “Saya pikir ini hanya main-main. Tapi begitu mulai, setiap orang harus memikirkan perannya dan pergerakan tim lawan. Kerja tim terjadi secara alami,” katanya. Setelah sesi, peserta mengisi 25 pertanyaan melalui aplikasi, yang kemudian memberi gambaran tentang tipe kepribadian dan peran ideal mereka di tim.
Bagi Indonesia, pendekatan ini bisa menjadi inspirasi bagi perusahaan yang ingin merevitalisasi budaya kerja. Pelatihan berbasis permainan—gamifikasi—sudah mulai dikenal di sektor startup, namun belum banyak yang mengadopsi simulasi fisik seperti laser tag. Mengingat hierarki kental di banyak perusahaan Indonesia, metode yang memaksa pengambilan keputusan tanpa memandang pangkat mungkin justru lebih efektif daripada sekadar outbound tradisional.
Ke depan, Nishino berencana memperluas program ke lebih banyak perusahaan dan mungkin mengembangkannya ke format digital. Pertanyaannya, akankah perusahaan-perusahaan di luar Jepang—termasuk Indonesia—berani mengganti ruang pelatihan dengan medan perang mini?



