Libur Sekolah Usai, BGN Pastikan Menu MBG Kembali Bergizi dan Libatkan UMKM
Baca dalam 60 detik
- Badan Gizi Nasional (BGN) melanjutkan distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah-sekolah setelah jeda libur dua pekan, dengan fokus pada peningkatan kualitas gizi dan keamanan pangan.
- Wakil Kepala BGN Trenggono menekankan pentingnya protein hewani dan penggunaan bahan baku lokal dari UMKM untuk menciptakan dampak ekonomi berkelanjutan.
- Masa libur dimanfaatkan BGN untuk membenahi tata kelola dan operasional program, termasuk penyerapan masukan dari sekolah dan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Setelah vakum selama dua pekan masa libur sekolah, program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali bergulir sejak awal pekan ini. Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan tidak sekadar melanjutkan distribusi, tetapi juga meningkatkan kualitas gizi dan tata kelola program yang menyasar jutaan siswa di seluruh Indonesia.
Wakil Kepala BGN Trenggono, saat meninjau pelaksanaan di sejumlah sekolah Jakarta Pusat pada Senin (14/7), menegaskan bahwa setiap anak harus mendapatkan asupan gizi lengkap dan seimbang. Ia secara spesifik menyoroti pentingnya protein hewani, seperti daging, yang perlu tersedia secara berkesinambungan dengan tetap memerhatikan standar keamanan pangan dan ketersediaan bahan baku lokal.
โKami ingin memastikan setiap anak memperoleh asupan gizi yang lengkap dan seimbang. Menu berbahan protein hewani, termasuk daging, perlu diupayakan tersedia secara berkesinambungan,โ ujar Trenggono dalam keterangan yang dikutip dari Antara. Arahan ini menjadi krusial mengingat banyak kasus malnutrisi di daerah yang kerap terkendala pasokan pangan hewani.
Lebih dari sekadar program pemenuhan gizi, Trenggono menekankan bahwa MBG dirancang sebagai penggerak ekosistem pangan daerah. Ia mendorong pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan mitra untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku pabrikan dan mengutamakan pasokan dari UMKM serta petani lokal. โProgram MBG harus menjadi penggerak ekosistem pangan di daerah. Manfaatnya tidak hanya dirasakan penerima, tetapi juga petani, pelaku usaha, dan masyarakat sekitar,โ kata mantan jenderal bintang dua TNI tersebut.
Sementara itu, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengungkapkan bahwa masa jeda distribusi dimanfaatkan untuk membenahi berbagai aspek operasional. Pihaknya melakukan penguatan tata kelola, penyempurnaan prosedur, dan penyerapan masukan dari lapanganโmulai dari kepala sekolah, guru, hingga peserta didik. โBerbagai pembenahan yang telah dilakukan diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan sehingga manfaat program dapat dirasakan secara optimal,โ ujar Arumsari saat meninjau distribusi di sejumlah titik di Jakarta.
BGN mencatat, kunjungan monitoring tidak hanya bersifat inspeksi, tetapi juga menjadi ajang evaluasi partisipatif. Masukan dari para pelaksana di lapangan, termasuk pengelola SPPG dan pihak sekolah, akan menjadi bahan penyusunan menu ke depan. Dengan pendekatan ini, BGN berharap program MBG tidak hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga responsif terhadap kebutuhan lokal dan preferensi penerima manfaat.
Ke depan, tantangan terbesar BGN adalah memastikan konsistensi kualitas dan kuantitas pasokan di tengah keragaman geografis Indonesia. Pertanyaannya, mampukah program ini menjaga momentum perbaikan tanpa mengorbankan skala jangkauan yang terus meluas?



