Mimpi Menteri Malaysia: Warga Singapura Berbondong Kerja di Seberang? Realitanya Tak Semudah Itu
Baca dalam 60 detik
- Menteri Nga Kor Ming kembali memicu perdebatan dengan pernyataan bahwa warga Singapura akan bekerja di Malaysia, namun para pakar menilai tren ini hanya terjadi di sektor khusus dan posisi puncak.
- Meskipun biaya hidup lebih rendah dan kualitas hidup lebih baik, selisih upah yang besar membuat pekerja Singapura enggan pindah kecuali mendapat paket kompensasi setara Singapura.
- Proyek Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura dan RTS diprediksi memperlancar mobilitas lintas batas, tetapi keputusan pindah tetap bergantung pada insentif karir dan kompensasi.

Pernyataan Menteri Perumahan dan Pemerintahan Daerah Malaysia, Nga Kor Ming, bahwa warga Singapura akan berbondong-bondong bekerja di Malaysia kembali menuai skeptisisme, terutama dari mereka yang sudah menjalani hidup di Negeri Jiran. Bagi Doreen Sim, pengusaha IT asal Singapura yang telah 20 tahun menetap di Kuala Lumpur, komentar tersebut mudah ditepis jika hanya membandingkan nilai tukar dolar Singapura dengan ringgit Malaysia.
“Pertanyaan umum dari warga Singapura adalah, ‘Mengapa pergi ke Malaysia untuk mendapat gaji lebih kecil?’” ujar Sim, seperti dikutip dari wawancaranya. Ia menegaskan bahwa jika keputusan pindah semata-mata didasarkan pada uang, maka visi Nga masih panjang untuk terwujud. Nga sebelumnya sempat menjadikan isu ini sebagai bahan kampanye menjelang Pemilu 2022, dan kembali mencuat pada Januari 2026 saat ringgit menguat terhadap dolar Singapura, meski kemudian ia mengklaim pernyataannya hanya candaan.
Dalam wawancara dengan Oriental Daily pada 26 Juni, Nga menegaskan bahwa pernyataannya bukan bernada negatif, melainkan untuk mendorong kemajuan Malaysia agar menarik minat tenaga kerja Singapura. Ia mencontohkan H&M dan Gardenia yang memindahkan sebagian operasi dari Singapura ke Malaysia sebagai bukti awal realisasi visinya. Namun, para pakar sumber daya manusia menilai tren ini masih sangat terbatas.
Arulkumar Singaraveloo, CEO Malaysia HR Forum, menegaskan bahwa tren ini hanya akan terjadi pada profesional berketerampilan tinggi dan posisi pimpinan, bukan tenaga kerja umum. “Biaya tetap menjadi pertimbangan utama. Mempekerjakan warga Singapura dengan paket gaji lokal Malaysia seringkali tidak menarik secara finansial bagi pengusaha maupun pekerja,” katanya. Ia menambahkan bahwa belum ada data statistik resmi yang menunjukkan peningkatan signifikan jumlah pekerja Singapura di Malaysia.
Ben Neumann, pemimpin Vialto untuk Singapura, sepakat bahwa arus talenta dari Singapura akan terjadi secara gradual dan selektif. Pertumbuhan diprediksi terjadi pada peran regional, hybrid, atau berbasis proyek, serta posisi kepemimpinan yang mengawasi tim Malaysia. “JS-SEZ adalah contoh bagus, dengan investasi yang tumbuh dan infrastruktur seperti RTS Link yang membuat mobilitas lintas batas lebih praktis. Namun, kompensasi, jalur karir, dan pertimbangan pajak tetap menjadi penentu,” ujarnya.
Greg Low, konsultan strategi properti yang berbasis di Johor Bahru selama 15 tahun, menekankan bahwa warga Singapura tidak akan antre untuk pekerjaan biasa. “Jika Anda sudah berpenghasilan baik di Singapura, nilai tukar membuat paket lokal Malaysia tidak masuk akal,” katanya. Namun, bagi pengusaha dan UKM, Malaysia menawarkan pasar yang lebih besar dan biaya overhead lebih rendah. “Malaysia memberi ruang untuk mengasah keterampilan komersial dan membangun sesuatu dari awal,” tambahnya.
Hafiz Ellahi, yang pindah ke Malaysia pada 1996 dan menjalankan bisnis perhiasan keluarga di Kuala Lumpur, mendorong profesional atau digital nomad yang tetap bisa memperoleh penghasilan dalam mata uang kuat untuk pindah. Namun, ia memperingatkan mereka yang menerima gaji ringgit untuk menghitung dengan cermat. “Penurunan pendapatan disposable mungkin tidak sebanding dengan stres menyesuaikan diri dengan infrastruktur,” katanya. Ia juga menyarankan untuk tidak memutuskan jembatan dengan Singapura: tetap pertahankan CPF, rekening bank, dan dana darurat.
Andrew Yong, 35 tahun, yang pindah ke Kuala Lumpur pada Agustus 2024 sebagai insinyur riset dan pengembangan di bidang pertanian, mengaku menerima gaji dalam ringgit. Meskipun gajinya tidak menyamai S$7.000 per bulan yang dulu diterimanya di Singapura, ia mendapat kesepakatan yang cukup baik. “Ini soal menemukan keseimbangan antara kebutuhan gaya hidup, komitmen, dan passion,” ujarnya. Ia menyambut baik aturan Malaysia yang lebih longgar dan baik untuk kesehatan mentalnya, meski mengeluhkan integrasi rasial dan konektivitas yang lebih buruk.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat kedekatan geografis dan budaya dengan Malaysia. Jika Malaysia berhasil menarik talenta Singapura ke sektor-sektor tertentu, Indonesia juga perlu mewaspadai potensi brain drain dari tenaga kerja terampilnya sendiri ke negeri jiran, terutama dengan adanya JS-SEZ yang bisa menjadi hub regional. Ke depannya, pertanyaan kuncinya adalah: mampukah Malaysia menawarkan paket kompensasi dan pengembangan karir yang cukup kompetitif untuk benar-benar mengubah peta persaingan tenaga kerja di kawasan?



