VAR di Piala Dunia: Kontroversi 'VARgentina' dan Kepercayaan Publik yang Tergerus
Baca dalam 60 detik
- Keputusan kontroversial VAR yang menguntungkan Argentina memicu kemarahan lawan dan keraguan terhadap integritas wasit di Piala Dunia.
- Protokol VAR baru yang belum teruji, termasuk koreksi kesalahan identitas, dinilai terlalu luas dan berpotensi mengubah esensi keputusan wasit.
- Kepercayaan penggemar terhadap sistem wasit mencapai titik terendah, diperparah oleh inkonsistensi sanksi FIFA dan persepsi favoritisme.

Keputusan kontroversial yang melibatkan Video Assistant Referee (VAR) kembali menghantui Piala Dunia, kali ini menyeret Argentina—yang dijuluki 'VARgentina' oleh warganet—ke pusaran tuduhan ketidakadilan. Mantan wasit FIFA Christina Unkel memperingatkan bahwa perluasan protokol VAR tanpa uji coba memadai telah menjadi 'tong mesiu' yang mengancam kredibilitas turnamen.
Perjalanan Argentina ke semifinal diwarnai serangkaian protes dari lawan. Puncaknya terjadi pada perempat final melawan Swiss, ketika Breel Embolo diusir keluar lapangan setelah mendapat kartu kuning kedua karena dianggap melakukan diving. Keputusan ini, yang diambil berdasarkan aturan VAR untuk koreksi kesalahan identitas, dikecam keras oleh pelatih Swiss Murat Yakin sebagai 'tidak bisa diterima'.
Unkel, yang kini menjadi analis aturan untuk ITV, menilai penerapan protokol tersebut terlalu prematur. "Saya rasa aturan ini tidak seharusnya diterapkan sejak awal. Terlalu luas," ujarnya. Ia menambahkan bahwa VAR tidak hanya mengubah siapa yang mendapat kartu, tetapi juga membalikkan keputusan awal—dari tendangan bebas menjadi sebaliknya. "Ini sudah masuk ke area 're-refereeing' yang selama ini dihindari VAR," tegasnya.
Kontroversi sebenarnya sudah dimulai sejak fase grup. Dalam laga melawan Aljazair, Lionel Messi dianggap menginjak betis kapten lawan Aissa Mandi, namun wasit tidak memberikan kartu merah. Messi kemudian mencetak hat-trick. Aljazair, menurut sumber Reuters, melayangkan keluhan resmi atas keputusan wasit. Pada babak 16 besar melawan Mesir, gol Mesir dianulir setelah VAR mendeteksi pelanggaran dalam prosesnya, sementara banding penalti Mesir ditolak. Argentina mencetak gol kemenangan pada menit ke-92.
Unkel menilai tidak ada keputusan mencolok yang salah dalam dua laga tersebut, tetapi ia mengakui bahwa faktor di luar lapangan—seperti inkonsistensi FIFA dalam menangani kasus kartu merah—telah memperburuk kepercayaan penggemar. "Saya belum pernah melihat tingkat kegaduhan seperti ini, tidak hanya di media sosial," katanya. Menurutnya, wasit sering menjadi kambing hitam termudah, tetapi kali ini masalahnya lebih sistemik.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kontroversi ini menjadi pengingat bahwa teknologi, meskipun dimaksudkan untuk meningkatkan keadilan, justru bisa memicu perdebatan baru. Dengan Piala Dunia yang akan datang, pertanyaan besarnya adalah: akankah FIFA merevisi protokol VAR atau justru memperluasnya? Atau, seperti dikhawatirkan Unkel, kita hanya menunggu 'paku terakhir' yang akan meledakkan kepercayaan publik sepenuhnya?



