Angelina Jolie Siap Rilis Film Tanpa Darah: Sebuah Eksplorasi Trauma dan Rekonsiliasi
Baca dalam 60 detik
- Film Without Blood garapan Angelina Jolie akan tayang di bioskop AS pada 18 September setelah diakuisisi Brainstorm Media.
- Diadaptasi dari novel Alessandro Baricco, film ini mengupas dampak perang terhadap ingatan dan proses penyembuhan.
- Jolie berharap film ini memicu diskusi tentang trauma dan rekonsiliasi, relevan dengan konflik global saat ini.

Angelina Jolie kembali ke kursi sutradara dengan film terbarunya, Without Blood, yang dijadwalkan rilis secara teatrikal di Amerika Serikat pada 18 September. Film yang diadaptasi dari novel karya Alessandro Baricco ini telah diakuisisi oleh Brainstorm Media setelah tayang perdana di Toronto International Film Festival tahun lalu.
Bercerita tentang dampak perang tanpa menyebut konflik spesifik, Without Blood mengikuti perjalanan dua karakter yang diperankan Salma Hayek Pinault dan Demián Bichir. Mereka bergulat dengan kenangan traumatis dan kemungkinan rekonsiliasi di tengah kehancuran. Jolie, yang ikut menulis skenario bersama Baricco, menyebut film ini sebagai upaya untuk menerjemahkan “kebenaran universal tentang trauma, ingatan, dan penyembuhan” ke dalam medium visual.
“Kedekatan emosional dan keterbukaan yang dibawa para pemain dan kru ke film ini sungguh luar biasa,” ujar Jolie dalam pernyataan resmi. Ia menambahkan bahwa penampilan berani Hayek dan Bichir diharapkan mampu menginspirasi percakapan yang sama seperti yang diinginkan Baricco saat menulis novelnya.
Bagi penonton Indonesia, film ini menawarkan refleksi yang relevan mengingat sejarah konflik dan upaya rekonsiliasi di berbagai daerah. Meski berlatar perang fiktif, tema tentang bagaimana luka masa lalu membentuk identitas dan kekuatan untuk melanjutkan hidup bersifat universal. Di tengah maraknya konten perang yang glamor, Without Blood justru menyajikan pendekatan introspektif yang jarang diangkat.
CEO Brainstorm Media, Michelle Shwarzstein, memuji film ini sebagai “pengakuan yang tak kenal kompromi terhadap biaya kemanusiaan dari perang, dibingkai dalam lensa western balas dendam.” Ia menekankan bahwa pesan film tentang empati dan pemahaman justru semakin relevan di tengah konflik global yang masih berlangsung.
Bagi Jolie, Without Blood menjadi film keempat yang ia sutradarai setelah In the Land of Blood and Honey, Unbroken, dan First They Killed My Father. Ia juga masih aktif berakting, dengan film Maria baru-baru ini menyita perhatian. Sementara itu, Salma Hayek yang sebelumnya bekerja sama dengan Jolie di Eternals (2021) menyebut pengalaman diarahkan Jolie sebagai “sangat memperkaya” berkat kecerdasan emosional dan kepekaannya.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah Without Blood mendapat sambutan serupa di Indonesia, di mana film dengan tema perang dan trauma psikologis masih jarang dipasarkan secara luas? Jika distribusi global berjalan lancar, bukan tidak mungkin film ini akan hadir di bioskop Tanah Air, membawa pesan rekonsiliasi yang mendalam.



