Lobi Putri Mick Jagger Selama Sepuluh Tahun untuk Bawa Rolling Stones ke Glastonbury
Baca dalam 60 detik
- Lizzy Jagger mengaku secara aktif mendekati Emily Eavis selama satu dekade agar Rolling Stones tampil di Glastonbury.
- Penyelenggara festival semula ragu band legendaris itu mau tampil dengan honor yang relatif rendah.
- Kisah ini mengungkap sisi personal keluarga Jagger yang besar dan sering kacau saat berkumpul.

Lizzy Jagger, putri sulung vokalis Rolling Stones Sir Mick Jagger, mengakui bahwa ia menghabiskan sepuluh tahun untuk 'menguntit' Emily Eavis, salah satu penyelenggara Glastonbury, demi meyakinkan festival tersebut mengontrak band legendaris asal Inggris itu. Pengakuan ini muncul dalam wawancara dengan Sunday Times, di mana Lizzy menceritakan perjuangannya bersama adiknya, Georgia Jagger, untuk menyaksikan sang ayah tampil di panggung Worthy Farm.
Rolling Stones akhirnya manggung di Glastonbury pada 2013, sebuah momen yang dinanti-nantikan oleh para penggemar. Namun, di balik suksesnya penampilan tersebut, terdapat cerita panjang tentang lobi pribadi yang dilakukan Lizzy. "Saya benar-benar menghabiskan sepuluh tahun mengejar festival ini agar mereka memesan Rolling Stones. Saya aktif menguntit Emily Eavis," ujar Lizzy. Ia menambahkan bahwa pihak festival awalnya ragu band tersebut mau tampil karena honor yang ditawarkan relatif rendah dibandingkan standar konser besar.
Kisah ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa bahkan band sekelas Rolling Stones pun harus melalui proses negosiasi yang unik. Glastonbury, yang dikenal dengan etos non-komersialnya, seringkali membayar artis di bawah tarif pasar. Keputusan Mick Jagger dan kawan-kawan untuk tetap tampil dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap festival ikonik tersebut, sekaligus memenuhi keinginan putrinya.
Lizzy dan Georgia awalnya menonton pertunjukan dari sisi panggung, namun memutuskan turun ke tengah penonton karena merasa aneh menonton dari tempat eksklusif. "Kami saling berpandangan dan berkata, 'Rasanya aneh menonton Glastonbury dari tepi panggung.' Jadi kami pergi ke kerumunan dan bersenang-senang," kenang Lizzy. Momen ini memperlihatkan bahwa meskipun menjadi keluarga bintang rock, mereka tetap ingin merasakan atmosfer festival seperti penggemar biasa.
Di luar kisah Glastonbury, Lizzy juga membuka dinamika keluarga besar Jagger. Mick Jagger memiliki delapan anak dari lima wanita berbeda, serta enam cucu dan tiga cicit. Pertemuan keluarga, menurut Lizzy, seringkali kacau dan luar biasa. "Kami berdelapan yang memiliki ayah yang sama, dan kami biasanya berkumpul untuk ulang tahun Ayah atau di rumahnya di Mustique untuk Natal dan Tahun Baru. Itu sangat menyenangkan, tapi dengan semua anak kami, rombongannya cukup besar dan bisa sedikit overwhelming," ungkapnya.
Bagi penggemar musik di Indonesia, kisah ini mengingatkan bahwa di balik panggung megah terdapat cerita personal yang humanis. Glastonbury sendiri telah menjadi inspirasi bagi festival-festival di Tanah Air, seperti Java Jazz atau We The Fest, yang kerap bernegosiasi dengan artis internasional. Pertanyaan yang muncul: apakah ada figur lokal yang rela melobi selama sepuluh tahun demi membawa idola mereka ke panggung Indonesia?



